Ternyata Kita Tidak Butuh Pacaran - Cinta Bisa Datang Sendiri

Jumat, 26 Juli 2013

advertisement
ajaran islam lebih romantis aku tidak butuh pacaran

Apa mungkin kita menikahi orang yang gak kita kenal baik sebelumnya?
Gimana bisa seorang laki-laki dan perempuan menikah jika mereka gak pernah pacaran dulu sebelumnya?
Kalau nggak cocok gimana? Kalau nggak saling cinta gimana?


Dan masih banyak lagi kekhawatiran-kekhawatiran lain yang dibisikkan oleh setan seolah bisikan itu berasal dari dalam hati kita sendiri.

Kalau mau dihitung-hitung sebenarnya sudah cukup banyak buku yang membahas soal dampak buruk pacaran, sebut saja “Udah Putusin Aja” karangan ustadz Felix Siauw. Tapi perempuan yang tersadar oleh buku-buku ini masih yang itu-itu aja. Kalau bukan mereka yang lagi patah hati pasti perempuan yang udah menyesal dan hancur akibat perbuatan pacarnya. Bosan juga aku membaca cerita sedih mereka.

Seperti kata mereka, romantisme memang membutakan. Aku sendiri juga pernah terbutakan olehnya. Waktu itu aku masih betul-betul yakin setiap orang harus pacaran dulu sebelum menikah. Bahkan aku sempat berdebat dengan temanku soal itu.

Dia bilang, “Buat apa pacaran-pacaran. Jodoh kan di tangan Allah!”
Aku jawab, “Emangnya rezeki nggak di tangan Allah?”
Dia berkata, “Ya, tentu saja. Kenapa rupanya?”
Aku bilang, “Kalau kau memang yakin rezeki seorang hamba telah ditentukan sebelum dia lahir. Jadi untuk apa kau sekolah dan melamar pekerjaan?”
Dia jawab, “Ya tentu saja harus! Aku sekolah supaya dapat gelar dan bisa melamar pekerjaan. Walaupun rezeki di tangan Allah tentu saja kita yang harus tetap menjemputnya. Kalau kita tidak berusaha bagaimana mungkin rezeki bisa datang sendiri mengetuk pintu rumah kita!”
Aku balik jawab, “Nah lho! Yaudah, jadi apa salahnya kalau suatu saat aku mau pacaran,” kataku, “Aku kan cuma berusaha. Kau sendiri yang bilang, mana mungkin jodoh bisa datang sendiri kalau kita tidak berusaha.”
Dia terdiam.

Tapi sekarang aku sudah sadar bahwa aku salah. Ternyata analogiku itu cacat dan salah. Nyatanya kita memang tidak perlu pacaran. Dalam tulisan ini aku akan jelaskan kenapa tiba-tiba aku bisa beralih dari seorang yang pro pacaran menjadi kontra. 

CINTA BISA DATANG TIBA-TIBA

Kalian yang perempuan pasti lebih memahami tentang ini. Pernah nggak kamu nerima seorang cowok yang nembak kamu? Padahal waktu itu kamu belum ada rasa apa-apa sama dia. Pasti pernah kan?

Berbeda dengan cowok yang jelas batas suka dan tidak sukanya, cewek biasanya masih mau mencoba dan melihat apakah cowok yang menembaknya ini akhirnya bisa memenangkan hatinya atau tidak. Cewek-cewek ini sangat tahu, jika mereka cukup sabar menunggu mungkin cinta akan bisa hadir di hatinya. Sementara laki-laki lebih sulit mengubah perasaannya pada seorang perempuan.

Tidak ada masalah dengan semua itu, memang begitulah kodrat laki-laki dan perempuan. Laki-laki memilih dan memanah sementara perempuan menerima dan mencari sisi positif. Itu sebabnya laki-laki melamar dan perempuan yang dilamar.

Kembali ke cerita cewek yang baru jadian tadi, seiring dengan berjalannya waktu, entah bagaimana tiba-tiba cinta itu muncul dalam hatinya. Kalau jauh kangen, kalau dekat pingin dijitakin. Waduh pokoknya kisah cinta klasik lah. Padahal awalnya gak ada rasa apa-apa lho, sama sekali. Tapi entah kenapa tiba-tiba ada saja satu sisi yang bisa ia cintai dari laki-laki ingusan yang gak pandai godain cewek ini.

Sadar atau tidak hal yang sama juga terjadi padamu. Coba ingat-ingat ketika pertama kali kalian jatuh mencintai pacar kalian, kalian pasti mencintainya untuk suatu alasan. Mungkin dari cara dia jalan, mungkin dari cara dia minta es batu dari tehmu, mungkin dari kepolosan wajahnya waktu mau minjem duit, atau kebodohan-kebodohan lainnya yang bisa kalian bayangkan sendiri. Kalian gak lagi ingat dulu kejelekannya yang dulu kali benci, yang kalian tahu cuma satu, pokoknya sekarang kalian jatuh cinta padanya dan tak ingin kehilangan dia selama-lamanya, titik. Dari situ saja sebenarnya aku sudah berhasil menunjukkan kalau ternyata cinta bisa datang karena terbiasa.

Tapi mungkin saja kalian yang baca catatanku sekarang ini bukan jenis orang yang rajin gonta-ganti pacar. Mungkin dari dulu pacar kalian cuma satu, walaupun putus nyambung. Tapi coba deh ingat-ingat lagi, pasti ada saat-saat dimana kalian harus bertarung dengan diri kalian sendiri untuk menjaga supaya tidak jatuh cinta pada laki-laki lain.

Kamu yang setia sekalipun pasti tetap senang juga jika seorang laki-laki coklat keren tampan berbadan tegap lewat di depan kalian. Kita juga tidak bisa memungkiri akan senang pada orang yang pandai bergaul dan memperlakukan orang lain. Hanya saja...

Hanya saja kamu memilih untuk setia dan tidak membuka celah untuk mengenal orang itu lebih dalam lagi. Kamu tidak memberinya kesempatan untuk sms atau menelpon, kamu juga tidak ingin berjumpa dengannya terlalu sering karena dalam hati kita tahu: jika kamu melakukan itu semua, bisa-bisa cinta tumbuh diantara kau dan dia, dan pastinya itu akan menjadi duri bagi pacarmu yang sekarang. Hayoo ngaku saja...

Coba ingat-ingat lagi saat pacarmu harus berada di tempat yang jauh. Tidak peduli seberapa pun setianya pacarmu itu, walaupun sedikit pasti ada rasa khawatir yang membayangi hatimu. Kamu bukan takut ia akan selingkuh atau semacamnya, yang kamu takutkan adalah jika suatu kesempatan tidak sengaja telah mempertemukan mereka, dan saat mereka berdua telah terbiasa, cinta tumbuh diantaranya, mengganggu hubungan kalian berdua.

Nah, kalau memang itulah yang selama ini kita takutkan saat jauh dari pacar, buat apa kita mempertanyakan hubungan orang yang menikah tanpa dasar cinta? Kalian kan tahu sendiri, bahwa cinta bisa datang tiba-tiba. Kalau kalian tidak tahu, lantas kenapa kalian cemburu waktu pacar kalian terlalu sering jalan dengan ‘sahabat’ lawan jenisnya? Kalau kalian tidak yakin bahwa cinta bisa datang karena terlalu lama bersama, lalu kenapa kalian mewajibkannya lapor tiap makan, lapor tiap pergi, dan lapor tiap malam kayak tamu komplek yang harus selalu lapor minimal 1x24 jam?

Kalian berbuat begitu karena dalam hati kalian tahu, cinta itu datangnya dari mata turun ke hati. Tidak peduli mau ganteng atau jelek, nggak peduli mau ada pacarnya atau nggak, siapapun yang terlalu sering bersama, sesering seorang bos sama sekretarisnya pasti lama-lama jatuh cinta juga. (Hati-hati aja deh, buat yang punya pasangan yang sering di luar)

Coba kamu bayangin, seandainya diluar sana tiap hari pacar kamu duduk dan jalan bersama seorang cewek yang dia sebut sahabatnya. Mungkin pacarmu itu setia tapi gimana dengan sahabatnya? Kalau aku sih takut lama-lama dia jatuh cinta juga. Belum lagi jika kesempatan datang pas mereka cuma berdua. Apa kamu yakin pacar kamu akan tahan dengan godaan sahabatnya yang udah dibawah kendali setan? Uihh,, jangan sampe deh..

Paham kan? Jadi kenapa harus takut untuk menikah tanpa pacaran? Toh, suatu saat pasti cinta juga kok. (Sekarang satu kekhawatiran terbesar kalian sudah hilang) Itu semua sesuai dengan kata orang-orang tua dulu ...

WETING TRESNO JALARAN SOKO KULINO

Cinta datang karena telah terbiasa bersama.

Tidak heran kalau orang-orang tua dulu mudah saja menikahkan anaknya tanpa persetujuan si anak terlebih dahulu. Itu mereka lakukan karena mereka sudah mengalami dan mengerti benar bahwa rasa suka bisa datang karena terbiasa bersama. Kata orang-orang tua dulu, anak jaman sekarang ini terlalu banyak nonton film.

Film-film jaman sekarang menceritakan seolah-olah cinta adalah sesuatu yang harus dicari dan diperjuangkan. Jodoh itu harus dicari hingga secocok-cocoknya, hanya sedikit sekali diantara mereka yang mengerti bahwa cinta itu harus saling mencocokkan diri. Ada orang bijak yang bilang, “Cinta bukanlah bagaimana mencari pasangan yang paling sempurna tapi bagaimana menjadi yang paling sempurna untuk pasangan kita.”

Pada akhirnya pacaran memang sama juga seperti sekolah yang kukatakan di awal tadi. Jika kamu rajin bertanya pada mereka yang sudah bekerja, mereka akan memberitahumu banyak yang mereka pelajari di sekolah tidak ada gunanya sama sekali di dunia kerja dan banyak yang dibutuhkan di dunia kerja malah tak mereka pelajari sama sekali di sekolah dulu. Mereka akan memberitahumu bahwa semua yang kau butuhkan di dunia kerja akan kau pelajari saat training atau singkat cerita sekolah itu tidak berguna sama sekali. Begitu juga dengan pacaran.

Coba tanya pada orang-orang yang sudah menikah, merekalah yang tahu pasti bahwa pacaran memang tidak ada gunanya. Mereka akan memberitahumu bahwa banyak hal yang harus mereka cocokkan ulang ketika mereka menikah. Masing-masing akan merasa seperti baru mengenal ulang pasangannya masing-masing. Semua pencocokan di masa pacaran itu seperti tidak ada gunanya.

Seperti juga lagu-lagu hits internasional yang biasa kalian unduh dan dengar. Aku tidak yakin kalian langsung menyukai semuanya saat pertama kali mendengar. Ada sebagian lagu yang butuh pembiasaan sampai kalian menyukainya. Lihat kan? Semua ini hanya perlu pembiasaan.

Jadi janganlah sekali-kali pungkiri itu. Sekarang di dunia ini tidak ada lagi yang namanya batasan hijab bagi laki-laki dan perempuan. Kamu yang pacaran pun pasti pernah menyukai dua orang dalam waktu yang sama, hanya saja mungkin kamu menahan diri.

KENAPA ISLAM MELARANG PACARAN?

Janganlah pungkiri karena hatimu tidak bisa berbohong, kamu akan menyukai siapapun yang sering muncul di depan matamu. Itu sebabnya dalam islam hubungan antara laki-laki dan perempuan dilarang. Sungguh menyakitkan rasanya jika harus menikahi orang yang di hatinya masih membekas cinta kepada orang lain di masa lalunya. (Itulah yang dicegah oleh agama Islam)

Lagian ngapain juga sih pacaran, mau nyeleksi gitu? Terus kalau gak lolos seleksi mau kamu buang gitu? Kalau gitu sih, yang ada cuma nambah-nambah mantan dan penyesalan doang kali. Kebayang nggak kalau kamu harus menikah sama orang yang mantannya banyak? Yang pasti sangat melelahkan, belum lagi bekas luka dan cinta yang sulit hilangnya, uihh.. gak ada enaknya deh kayaknya.

Pada akhirnya kamu harus tahu bahwa cinta yang kamu tanam sekarang ini akan seperti perjuangan sia-sia ketika kamu menikah nanti. Karena pada saat itu kamu harus mengulang semuanya dari awal lagi. Dan semua kerugian itu belum ada apa-apanya jika aku menceritakan betapa ruginya seorang perempuan yang telah dibeli pacarnya dengan boneka, minyak wangi, dan makan malam.


Jadi sekarang aku tanya, siapa yang serius ingin menjadi pasangan terbaik dan siapa yang ingin main-main dulu? Soalnya tujuanku menulis disini cuma dua. Kalau pun aku tidak berhasil membuatmu putus dengan pacarmu, setidaknya aku membuat kamu sadar bahwa pacaran yang kamu lakukan bukanlah demi sebuah tujuan mulia untuk menyambut pernikahan, tapi hanya sekadar main-main dan memperturutkan hawa nafsu belaka. Ya kan?

Jadi gimana mau sadar sekarang? Atau nanti tunggu menyesal? Karena waktu tak bisa diputar.
 

Tulisan Populer

BERLANGGANAN VIA EMAIL

Selalu ketinggalan tulisan terbaruku? Tinggalkan saja alamat emailmu! Jadi aku bisa memberitahumu tiap kali sebuah tulisan baru terbit.