Bagaimana Cara Menyikapi Kritikan Orang Lain?

Sabtu, 16 November 2013

advertisement
ego the criticus ratatouille - seorang kritikus boleh saja tidak ahli membuat tapi paham bagaimana itu berkerja
Seorang kritikus sering kali dibenci karena kata-katanya

Sudah lama aku ingin menumpahkan perasaan ini tapi entah kenapa selalu ada saja tulisan lain yang ingin kudahulukan postingnya. Alhamdulillah, akhirnya tulisan ini sempat keluar ke permukaan juga.

Tulisan ini akan cerita soal Tukang kritik alias kritikus.

Di TV, di dunia nyata atau dimana saja, kita bisa menjumpai seseorang dengan jenis topi hitam (menurut De Bono). Orang ini selalu mengkritisi apa yang ia lihat dan akan terkesan kurang menyenangkan jika yang dikritik kebetulan mudah jengkel.


Seorang pengkritik kalau ketemu dengan orang yang makannya kecepetan, akan mengomel, "jangan makan cepat-cepat, nanti begini dan begitu". Seorang pengkritik kalau ketemu orang yang main bola akan komentar, "Seharusnya dia oper bola lebih cepat."

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan pengkritik. Apalagi jika dia punya data dan kita anggap mumpuni untuk mengomentari hal-hal yang memang bidang keahliannya. Yang membuat kita pedas telinga adalah jika ternyata dia sama sekali tak tahu apa-apa tapi sok pintar mengomentari ini dan itu.

Sayangnya tipe orang seperti ini banyak sekali. Tukang kritik seperti ini, seakan tahu segalanya, kalian pun pasti pernah punya kenalan begini, aku sarankan suruh dia baca postingan ini biar dia agak sadar sedikit. Orang seperti ini tak akan berhenti mengomentari apapun yang di depannya. Masih mending kalau dengan sopan. Yang iyanya udah la gak sopan, pas komentar dia gak bisa dibantah pulak tu.

Aku sendiri pernah punya teman beginian. Dia komentari segalanya, seakan dia tahu semuanya, dia paham otomotif, dia paham listrik, matematika, psikologi manusia, politik, pokoknya dia dewa kalilah perasaannya itu. Padahal yang dilakukannya hanya mempermalukan diri sendiri.

Cara terbaik menghadapi tukang kritik seperti ini adalah dibiarkan saja. Seperti yang coba diajarkan Lukman yang Bijak pada anaknya.

Suatu hari Lukman ingin mengajarkan anaknya untuk tidak melakukan sesuatu berdasarkan orang lain, lalu ia temukan suatu cara. Ia mengajak anaknya pergi dan membawa seekor keledai kecil.

Dan lanjutan ceritanya seperti yang kalian sudah tahu, awalnya si anak naik ke atas keledai dan si ayah berjalan di sampingnya, lalu orang komentar, "Kurang ajar itu anak, masak ayahnya disuruh jalan."

Lalu mereka tukar posisi, ayahnya sekarang naik keledai, si anak berjalan di sampingnya, kemudian orang pun berkomentar, "Kurang ajar itu bapak, masak anaknya disuruh jalan sementara dia enak-enakan duduk.

Lalu mereka pun sama-sama naik keledai itu. Orang komentar lagi, "Sadis ini bapak ama anak, masak gak ada kasiannya ama keledai, udah kecil begitu, kurus, cungkring lagi, masak ditiban berdua."

Lalu pada akhirnya mereka semua berjalan bersama keledainya. Dan orang berkomentar lagi berbisik, "Ini keluarga kok oon banget ya, itu ada keledai satu kan bisa ditunggangi, kenapa gak salah satu dari mereka naik aja. Kan mubadzir."

Begitulah, kurasa kita tak perlu mencari senang hati orang yang tukang kritik yang jenisnya seperti itu.

Pokoknya tukang kritik yang tipe beginian nggak banget lah. Nah tapi posting yang sesungguhnya baru akan dimulai dari sini.


Karena saking banyaknya tipe tukang kritik yang seperti kusebutkan diatas, yaitu mereka yang takkan berhenti komentar walaupun tak tahu, maka orang mulai lagi tak percaya pada profesi kritikus. Ini kita ketahui dari munculnya kata-kata seperti:
"AH, Taumu cuma komentar aja!"
"AH, Bising kali pun kau, ini salah itu salah, coba lah perbaiki kalau bisa!"
"AH, Jangan ngritik ajalah bisamu, coba kerjain sendiri, pasti kau pun tak bisa!"

Dengan munculnya kata-kata ini kita jadi diarahkan untuk percaya bahwa, Seseorang tidak boleh mengkritik jika tak bisa melakukannya dengan benar. Seseorang gak boleh mengkritik kerjaan temannya jika dia tak bisa memperbaikinya. Seseorang gak boleh bilang suatu kue tidak enak jika dia tak bisa membuatnya.

Padahal!!!!
Padahal profesi kritikus sesungguhnya memang ada. Kamu pernah dengar kan ada orang yang kerjanya jadi tester makanan? Dia bisa menilai apakah makanan itu kurang garam atau sesuatu lainnya dengan lidahnya yang peka. Ada juga orang yang bisa mencium beribu macam parfum dengan hidungnya yang peka. Ada orang yang bisa menganalisis pertandingan sepak bola karena ilmunya. Ada orang yang bisa melatih bulu tangkis karena pengalamannya.

Apakah mereka harus ahli melakukannya?

Apakah tester makanan harus koki yang handal jika dia mau bilang suatu masakan kurang enak? Apakah si tester parfum harus jago meracik parfum kalau dia bilang baunya kurang enak? Apakah si komentator sepak bola harus sejago CR7, Messi, Maradona atau Pele? Apakah si pelatih bulu tangkis harus jago seperti atletnya? Tidak kan?

Tentu saja tidak. Kalau lah memang mereka lebih jago, kenapa tidak mereka saja yang main bulu tangkis mewakili Indonesia. Itu semua karena sesungguhnya profesi kritikus itu memang ada. MEMANG ADA ORANG YANG KERJANYA CUMA BISA MENGKRITIK. TIDAK MASALAH JIKA IA BISA MELAKUKANNYA SEBAIK KITA ATAU TIDAK. YANG JELAS MASUKAN MEREKA SANGAT BERARTI.



Lama-lama aku jadi berpikir, mungkin kita saja yang terlalu sensi mendengar kata-kata pedas kritikus. Mungkin sebaiknya kita tidak berpikir buruk, tapi mulai menerima apa yang coba ia katakan. Walaupun kata-katanya sedikit tidak mengenakkan setidaknya itu bisa jadi introspeksi bagi diri kita.

Jadi mulai sekarang, jangan salahkan semua kritikus walaupun sebagian besar kritikus di sekitar kalian tidak beres seperti yang kusebut di awal. Kalian mulai sekarang sah-sah saja mengkritik para Koruptor di DPR. Kalian tak perlu takut teman kalian akan bilang, "Alah cok, cok... kalau kau pun di posisi mereka kau akan melakukan hal yang sama bahkan mungkin yang lebih parah!" Gak apa-apa kalau kalian merasa punya argumen kritik saja karena sesungguhnya itu adalah bagian dari AMAR MA'RUF NAHI MUNKAR. Tak perlu ada jaminan bahwa kalian bisa melakukannya lebih baik atau tidak. Kritik saja. Asal membangun, apalagi jika kalianpandai membungkusnya agar tak menyakitkan hati, tak apa, KRITIK SAJA.

Termasuk aku. :)
 

Tulisan Populer

BERLANGGANAN VIA EMAIL

Selalu ketinggalan tulisan terbaruku? Tinggalkan saja alamat emailmu! Jadi aku bisa memberitahumu tiap kali sebuah tulisan baru terbit.