Kenapa Dia Pintar Sedangkan Aku Bodoh?

Kamis, 12 Juni 2014

advertisement
Kenapa dia yang tidak belajar bisa pintar sedangkan aku tetap bodoh

"Kenapa dia yang tidak pernah belajar bisa pintar matematika sedangkan aku yang sudah mati-matian tidak sedikit pun mengalami kemajuan?”
“Kenapa anak magang ingusan yang baru satu tahun bekerja itu bisa langsung dipromosikan sedangkan aku yang sudah sepuluh tahun berada disini malah terancam perampingan perusahaan?
“Kenapa manusia jahanam itu harus diciptakan jadi orang kaya sedangkan aku jadi orang miskin?”
“Kenapa bukan aku? Kenapa harus dia? Bukankah aku lebih pantas?”


Aku harap tak satupun dari pertanyaan diatas pernah terlintas dalam benak kita.

Waktu sekolah dulu, aku pernah kenal dengan salah satu anak yang cukup jago berbahasa inggris. Sebenarnya aku ingin jadi seperti dia, tapi aku sudah cukup puas dengan anugerah yang diberikan Tuhan kepadaku. Jadi biarlah setiap orang punya kelebihannya sendiri.
Suatu hari setelah pembagian raport, aku mendapati anak itu sedang sendirian menangis di sudut kamarnya di asrama. Aku bertanya kenapa dan mendengarkan ceritanya.

“Apa Tuhan itu Maha Adil?” tanyanya sambil menghapus air matanya.

“Apa maksudmu?”

“Kenapa kau bisa jadi ranking satu sementara aku tidak? Kenapa kau bisa jadi jenius matematika sementara aku tidak? Aku ingin sekali menjadi sepertimu. Apa kau tak sadar aku selama ini aku telah memata-mataimu?”

“Benarkah?”

“Ya, tadinya aku pikir ada semacam rahasia supaya bisa jadi jenius matematika seperti itu. Aku bela-belain pindah ke asramamu hanya untuk mencari tahu kebiasaanmu. Tapi tidak ada ritual rahasia apapun. Aku tidak percaya, ternyata kau hanya seorang gamer pemalas yang konyol.”

“Hehe, iya memang.”

“Tapi kau tetap ranking satu. Bahkan setelah aku telah meniru semua yang kebiasaan bodohmu, memakan semua yang kau makan dan melakukan semua yang kau lakukan. Kau pun tak tahu sudah berapa kali aku gunakan cara-cara kotor untuk menjatuhkanmu. Kau tetap ranking satu.”

“Mau bagaimana lagi?”

“Aku bisa terima jika Risa atau Diana yang jadi ranking satunya. Mereka cukup keras berusaha tapi kenapa harus kau? Kenapa harus kau yang banyak tertawa dan tidak pernah serius belajar yang jadi ranking satunya? Kau tidak pantas untuk itu.”

Kisah penolakan atas kenyataan yang dialami temanku diatas kuharap dapat memberi gambaran umum pada kita semua sebelum tulisan ini dimulai. Aku ingin menjelaskan pada kita semua bahwa Tuhan menciptakan makhlukNya berbeda-beda. 
  • Ada makhluk yang pandai memanjat tapi tak pandai berenang dan terbang.
  • Ada juga makhluk yang pandai berenang tapi tak pandai memanjat dan terbang.
  • Ada lagi makhluk yang pandai terbang tapi tak pandai memanjat dan berenang.

Bisa tidak kalian bayangkan ada seekor nyamuk yang iri pada elang yang bisa terbang tinggi di angkasa? Apa kira-kira dengan termenung mengharapkan sayap yang besar dia bisa mendapatkannya? Tidak kan. Kita harus tahu bahwa si nyamuk telah lama menerima dengan ikhlas sayapnya yang kecil. Setelah penerimaan itulah si nyamuk akhirnya bisa menemukan kelebihannya sendiri. Yaitu berupa kegesitan manuver terbang (yang tidak akan bisa ia miliki jika sayapnya besar)

Perbedaan ini harusnya membuat kita sadar bahwa iri adalah perbuatan yang sama sekali tidak ada gunanya.

Meratapi apa yang tidak kita miliki adalah penyi-nyiaan pada apa yang kita miliki.
 

Tulisan Populer

BERLANGGANAN VIA EMAIL

Selalu ketinggalan tulisan terbaruku? Tinggalkan saja alamat emailmu! Jadi aku bisa memberitahumu tiap kali sebuah tulisan baru terbit.