Cerpen - Guru Sempurna

Rabu, 04 Februari 2015

advertisement
okezone beberapa jenis siswa sulit diajarkan tapi tidak mustahil

Aku adalah seorang guru sempurna. Aku bisa mengajarkan mata pelajaran apa saja, dengan metode apa aja kepada siswa bagaimana saja. Aku tegas sekaligus lembut. Aku ramah sekaligus pemarah. Aku suka memberi hadiah dan juga suka memberi hukuman.

Aku pernah mengajar di lebih dari tujuh puluh sekolah. Walaupun cuma mengajar satu semester di satu sekolah lalu pindah ke sekolah lainnya, aku selalu menjadi guru favorit di sekolah itu.

Suatu ketika aku masuk ke terbang ke sebuah sekolah. Konon, ada sebuah kelas di sekolah itu yang muridnya luarbiasa bandelnya. Aku akan masuk kesana dan mengajarkan mata pelajaran matematika.

Sebelum masuk, aku diperingatkan guru-guru disana bahwa beberapa dari anak-anak ini setengah gila. Aku juga mendengar kabar tentang dua orang guru matematika yang meninggal seminggu setelah masuk ke kelas mereka. Aku tidak takut karena aku guru sempurna.

Saat pertama kali menghadapi mereka di kelas aku tahu mereka akan merencanakan sesuatu yang buruk jika aku langsung mengaku sebagai guru matematika tapi aku tak peduli. Aku langsung mengaku.

Aku bisa saja menggunakan pendekatan lembutku jika mau tapi aku tahu anak-anak seperti ini tidak boleh diberi sisi lembut sedikit pun. Jadi aku menyembunyikan sisi lembutku dan menunjukkan sisi tegas cenderung kejamku.

Aku menghajar mereka dengan cara yang tidak pernah dilakukan guru-guru sebelumnya. Aku hantam mereka setiap kali berbuat salah agar mereka tahu bahwa mereka tidak ada apa-apanya untuk sombong dan berlagak di depan gurunya. 

Sekali waktu, aku angkat anak itu dan kulempar keluar dari kelas. Terdengar kejam memang tapi kalian tak mengerti, hanya itulah satu-satunya cara untuk mengajari anak sebandel mereka.

Ternyata sebenarnya mereka anak yang pintar. Mereka mengerjai guru-guru yang masuk karena guru-guru itu mereka rasa masih kalah pintar. Tapi kemampuanku jauh di atas mereka. Mereka hanya bisa terkagum-kagum saat melihat aku mengajar.

Dalam seminggu, aku pun jadi guru kesukaan mereka. Menurut mereka, aku cukup gaul dan tangguh, tidak seperti guru-guru lainnya. Saat itu aku sudah seperti bos preman mereka, jadi aku perintahkan agar mereka juga berlaku hormat pada guru-guru yang lain.

Setelah satu semester aku pun terbang ke sekolah lain lagi yang aku rasa memerlukanku.


Di sekolah yang baru ini, keadaannya sungguh berlawanan. Anak-anak disini sangat baik budi, sopan-sopan dan cenderung perasa. Mereka sudah takut saat aku merengutkan wajahku sedikit saja. Aku pun tahu bahwa anak-anak itu tidak perlu diajari dengan cara keras. Jadi aku tunjukkan sikap lembutku kepada mereka tanpa sedikitpun pernah menunjukkan sisi kerasku.

Aku masuk ke kelas mereka untuk mengajarkan mata pelajaran agama. Mereka sopan-sopan tapi tidak secepat kelas yang sebelumnya kuajarkan. Aku harus sabar-sabar saat harus berulang-ulang menjelaskan sesuatu pada mereka. Dan aku memang sangat sabar karena aku guru sempurna.

Akhirnya satu semester pun berlalu. Aku pergi sebagai guru agama kesukaan mereka walaupun aku ragu apa mereka masih akan ingat semua yang kuajarkan setelah aku pergi nanti.

Tapi ada satu kelas lagi yang menarik perhatianku. Jadi aku terbang ke sekolah lain lagi.


Di sekolah ini ada sebuah kelas yang sebenarnya tak perlu lagi diajari. Mereka sudah punya semuanya. Guru yang bagus, gedung belajar yang nyaman, fasilitas yang lengkap tapi masih ada saja yang rasanya kurang.

Aku pun masuk ke kelas mereka sebagai guru mata pelajaran Kehidupan. Setelah masuk kesana akhirnya aku mengerti bahwa mereka hanya belum mampu memahami konsep kehidupan secara menyeluruh.

Jadi aku mengajarkan mereka untuk membuka buku saat butuh informasi dan melakukan eksperimen saat butuh pembuktian. Aku juga mengajarkan mereka untuk selalu fokus dengan apa yang ada di depan tapi juga tak lupa untuk belajar dari sejarah kegagalan orang-orang di belakang.

Aku mengajarkan mereka dengan metode yang lengkap. Kadang aku marah, kadang aku lembut, kadang aku beri hadiah kadang aku beri mereka hukuman, karena di kelas mereka aku bisa temui anak segala jenis dengan berbagai macam latar belakang. Jadi aku seimbangkan cara mengajar yang sudah-sudah pada satu kelas khusus ini.

Setelah satu semester aku pun pergi meninggalkan mereka sebagai guru yang paling mereka cintai.


Beberapa tahun kemudian mereka semua jadi mahasiswa. Beberapa diantara anak-anak di tujuh puluh lebih yang pernah kumasuki entah bagaimana bisa berkumpul dalam satu kelas di sebuah kampus. 

Suatu ketika mereka berdiskusi soal guru terbaik yang pernah ada.

“Guru terbaik di dunia adalah Pak Habib, guru matematika kami.”
“Bukan! Guru terbaik adalah Pak Habib, guru agama kami.”
“Bukan! Guru terbaik adalah Pak Habib, guru kehidupan kami.”

Mereka semua terus berdebat membela aku yang ada dalam persepsi mereka. Ya, aku guru sempurna yang pemarah, lembut dan perpaduan sempurna dari dua sifat yang berlawanan lainnya. Aku ingin sekali menjelaskan kalau kesempurnaan sifatku sebagai guru tidak mungkin kuperlihatkan pada dua kelas sebelumnya. Mereka belum siap untuk itu pada saat aku masuk ke kelas mereka.

Tapi biarlah mereka mencari jati diriku yang sebenarnya. Kalian tidak tahu betapa menyenangkan rasa saat seekor kambingmu hilang, pergi entah kemana, kemudian suatu hari kembali padamu kan?


Jika mereka memang memperhatikan waktu aku menjelaskan, suatu saat mereka pasti akan mengenali bahwa hanya ada satu aku di dunia ini. Satu-satunya guru yang sempurna.
 

Tulisan Populer

BERLANGGANAN VIA EMAIL

Selalu ketinggalan tulisan terbaruku? Tinggalkan saja alamat emailmu! Jadi aku bisa memberitahumu tiap kali sebuah tulisan baru terbit.