Adab Bergaul di Media Sosial

Rabu, 11 Maret 2015

advertisement
Tabayyun tatsabbut membedakan berita dan hoax di media sosial

“Lihat Bang, ada polisi!” tunjukku ke arah perempatan.
“Ah, tahu darimana dia itu polisi?”
“Dia kan pakai seragam polisi!”
“Kita gak boleh menilai seseorang dari tampilan luarnya aja Bib! Kamu harus buktikan dulu dia itu memang polisi baru kamu boleh ngomong gitu. Jangan asal tuduh aja!”
“Tapi kalau kita terus lewat kita bakal kena tilang Bang! Abang lupa aku gak pake helm?” 

"Waduh!"


SESEORANG DIKENALI LEWAT SERAGAMNYA

Polisi dikenali karena seragamnya. Perawat dikenali karena seragamnya. Siswa SMA juga dikenali karena seragamnya. Kamu tak perlu melihat kartu tanda pengenal seseorang untuk mengenali apakah seseorang benar-benar polisi atau bukan. Walaupun ada kemungkinan orang itu hanya sedang meminjam baju tetangganya yang memang seorang polisi, jumlah kasus itu terlalu kecil untuk membatalkan generalisasinya. Kamu tetap tidak boleh disalahkan kalau mengira seorang berbaju polisi sebagai polisi.

Dalam konteks ini aku kira kalian sepakat denganku bahwa seseorang memang dinilai dari tampilan luarnya. Don’t judge book by its cover mungkin terdengar manis tapi di dunia ini sebuah buku memang dinilai dari sampulnya dan seseorang memang dikenali dari seragamnya. Jadi aku harap kalian terbiasa dengan itu.

Aku pernah punya pengalaman buruk dengan seseorang yang tidak mengerti tentang hal ini. Ceritanya agak sedikit lucu jadi duduklah yang manis karena aku akan mulai bercerita. 

FOTO PROFILNYA

Suatu ketika aku ketemu dengan akun facebook milik seorang perempuan. Foto yang ia gunakan sebagai foto profilnya waktu itu benar-benar terbuka sekali. Aku kira perempuan ini pastilah seorang cewek murahan (aku tidak ingin menggunakan istilah yang lebih buruk lagi) mungkin ia memasang foto seperti itu supaya bisa menjaring banyak lelaki masuk dalam perangkapnya.

Aku yang merasa aneh dengan kelakuannya berniat untuk mewawancarainya dan kehidupan yang ia jalani. Sayangnya aku tak begitu berpengalaman berurusan dengan cewek beginian. Mencoba bersikap biasa, aku pun mengirim pesan padanya,

“Berapa duit kamu jual harga dirimu?”

Dan tanpa kukira ternyata dia malah marah-marah. Katanya dia bukan perempuan seperti itu. Aku pun langsung minta maaf. Mana kutahu! Yang kutahu seorang perempuan biasa pasti malu mempertontonkan bagian-bagian tubuhnya. Hanya mereka yang suka menjajakan dirilah yang suka memamerkannya. Jadi apa aku salah kalau salah mengira?

Apa seorang intel boleh marah saat teman-teman premannya menawarinya minum minuman keras? Tidak kan. Itu resiko karena dia menyamar sebagai preman. Apa kamu boleh marah, saat satpol pamong praja menangkapmu? Tidak kan. Siapa suruh kamu berpenampilan seperti gelandangan dan duduk di pinggir jalan. Jadi apa aku salah saat mengira ia sebagai cewek murahan? Tidak kan. Siapa suruh ia menyamar jadi cewek murahan.

“Barangsiapa menempatkan dirinya di tempat yang dapat menimbulkan persangkaan, maka janganlah menyesal kalau orang menyangka buruk kepadanya.” – Umar ibn Khattab

Kalau dia memang ingin dihormati dan dihargai sebagai seorang perempuan ya harusnya gunakanlah pakaian yang memang menunjukkan bahwa ia merupakan perempuan baik-baik. Jika memang seorang muslimah gunakan jilbab. Jika memang bukan muslimah setidaknya gunakanlah pakaian yang sesuai dengan adat ketimuran kita yang sopan dan tertutup.

Yang membuatku heran adalah, ternyata perempuan itu malu saat aku memandangnya seperti cewek murahan tapi tetap saja ia membuka aurat dan bagian-bagian tubuhnya. Tidak hanya itu, ia juga menjadi foto yang posenya paling menggoda sebagai foto profilnya. Apakah kira-kira semua ini karena ia benar-benar tidak mengerti atau ia memang tidak merasa itu merupakan sebuah aib?

Karena kita tidak tahu alasan sebenarnya jadi marilah kita berpikir positif saja, mungkin si perempuan tadi memang tidak bermaksud untuk mengumbar-umbar foto auratnya. Mungkin ia cuma mengunggah gambar itu buat seru-seruan aja. Tapi andai kata buat seru-seruan pun, seharusnya ia paham konsekuensi berpenampilan seperti itu kan? Dalam hal ini konsekuensinya adalah ditegur oleh orang yang sepertiku.


Teman-teman dan kalian para pembaca sekalian mungkin ingin protes, kenapa aku lebih suka mengingatkan orang lain dengan cara keras seperti ini dari pada dengan cara lembut. Seperti yang sudah kujelaskan dalam tulisan Kenapa Habib Lebih Suka Cara Keras di zaman sekarang ini sudah terlalu banyak orang yang mengingatkan dengan cara lembut. Aku tidak terlalu yakin cara itu mempan. Jadi aku pilih cara keras ini.

Seperti Umar yang tidak begitu disukai oleh istri-istri Nabi karena sikapnya yang sama sekali tidak lembut itu, aku sadar akan resikoku untuk dibenci banyak orang karena caraku yang ekstrim ini. Aku berharap dengan adanya orang dengan cara keras seperti ini, perempuan yang bangga memamerkan auratnya sekarang jadi hati-hati memasang foto profil mereka. Kalaupun aku belum bisa membuat mereka ikhlas meninggalkan kemunkaran karena takut pada Allah setidaknya sekarang mereka punya seseorang untuk ditakuti kata-katanya. Wallahua’lam.
 

Tulisan Populer

BERLANGGANAN VIA EMAIL

Selalu ketinggalan tulisan terbaruku? Tinggalkan saja alamat emailmu! Jadi aku bisa memberitahumu tiap kali sebuah tulisan baru terbit.