Kekhawatiran Seorang Ayah

Kamis, 29 September 2016

advertisement
Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku menuliskan pikiran-pikiranku. Saat hari ini aku harus kembali menuliskannya ada sedikit rasa khawatir dalam benakku, jangan-jangan pembacaku tidak menyukainya. Tapi di luar hujan dan aku belum bisa pulang dari kampus jadi aku beranikan diri untuk tetap menulis dan menerbitkan sebuah tulisan.


Kali ini aku akan bercerita tentang kekhawatiranku terhadap Ali, anak pertamaku yang umurnya baru beberapa minggu. Lanjut boleh ya?


Seperti yang kalian tahu, aku ini seorang idealis yang notabene punya banyak protes pada sistem yang ada. Aku punya protes terhadap sistem pemerintahan, sistem pendidikan, sistem informasi dan banyak sistem lainnya. Pengetahuan tentang kebobrokan setiap sistem membuatku tidak mudah percaya pada apapun.

Pada gilirannya, aku khawatir pada masa depan Ali. Dengan orang macam apa ia akan bergaul nanti? Acara TV macam apa yang akan berusaha mempengaruhi pikiran polosnya nanti? Sekolah macam apa yang akan memberinya doktrin nanti? Negara macam apa yang akan menaunginya nanti? Semua itu sungguh membuatku risau.

Hancurnya akhlak anak-anak di sekitarku sekarang ini membuatku ingin mengurung anakku saja. Ketidakjujuran yang diajarkan sekolah-sekolah zaman sekarang membuatku ingin menyekolahkan Ali di rumah saja. Buruknya pesan negatif yang dibawa TV membuatku ingin membatasi pengelihatan matanya. Tapi aku juga tidak mungkin menjaganya sedemikian ketat jika ingin ia hidup normal.

Aku jadi teringat pada ayahnya Nemo dan merasa tidak beda jauh dengannya. Sampai di titik ini aku hanya bisa bilang, La haula wa la quwwata illa billah. Tiada daya (menghindari keburukan) dan tiada upaya (meraih kebaikan) kecuali dengan Allah.

Ada saran lain?
 

Tulisan Populer

BERLANGGANAN VIA EMAIL

Selalu ketinggalan tulisan terbaruku? Tinggalkan saja alamat emailmu! Jadi aku bisa memberitahumu tiap kali sebuah tulisan baru terbit.