Haruskah Membahagiakan Orang Tua Sebelum Menikah?

Kamis, 27 Oktober 2016

advertisement
jangan lama-lama pacaran tapi gak jadi nikah
foto hanya ilustrasi
Di Mojokerto, seorang laki-laki telah cukup lama berpacaran dengan seorang perempuan. Laki-laki itu cukup baik. Dia tidak mengambil yang bukan haknya selama pacaran. Dia bahkan menabung sebagian gajinya hingga cukup untuk menyelenggarakan pernikahan. Betapa beruntung perempuan itu tapi alangkah sialnya si laki-laki ketika lamaran itu akhirnya ia ajukan, si perempuan malah menjawab:


“Bukannya aku gak mau diajak nikah. Aku cuma masih ingin membahagiakan orang tua.”

JLEB! JLEB! JLEB! Nyesek gak tuh? Menurutku wajar jika saat itu si laki-laki sakit hati dan pergi mencari perempuan lain. Coba pikir, kenapa sih perempuan itu gak dari dulu aja berbakti dan membahagiakan orang tuanya? Kalau ia sudah berbakti sejak kecil, kan si laki-laki gak perlu menunggu apa-apa lagi.

Tidak berbaktinya si perempuan pada orang tuanya sejak kecil juga bermakna bahwa dia tidak patuh pada orang yang harus ia turuti. Bukankah itu pertanda bahwa ia tidak bisa jadi istri yang patuh nantinya? Tapi sayangnya si laki-laki sudah terlanjur cinta. Maklumlah, siapapun yang telah berqurban banyak untuk seseorang (baik di malam minggu atau bukan) pastilah hatinya menjadi qarib dengan orang tersebut.

Laki-laki itu malah bertanya, “Emang kamu gak bisa berbakti pada orang tua setelah kita nikah?” Ketahuilah, ini pertanyaan yang sebenarnya menyudutkan diri si laki-laki itu sendiri. Karena pastilah si perempuan akan menjawab:

“Sebenernya bisa aja sih tapi tentulah gak semaksimal selagi masih single gini Beb. Kalo udah nikah nanti aku kan harus prioritasin kamu dan keluarga kita.”

Bisakah kalian membaca isyarat halus perempuan itu? Itu adalah isyarat halus agar si laki-laki mengizinkannya menjadi wanita karir setelah menikah. Kalau laki-lakinya gak masalah dengan itu sih gak apa-apa tapi kalau dia mencari perempuan yang senang berkarir dari rumah bukankah ini sebuah jebakan tingkat batman? Hoho…

Tentulah setelah itu si laki-laki cuma bisa ngangguk-ngangguk dan berkata, “Yaudah deh Beb, kamu bahagiain orang tua kamu aja deh tapi… hari sabtu nanti kita main-main ke Vila aku yuk?” KIAMAT! Hubungan yang telah dijaga baik bertahun-tahun akhirnya rusak akibat niat baik berbakti pada kedua orang tua. Setan menang!


Dalam kejadian ini, aku tidak ingin komentar banyak-banyak. Aku hanya berharap kelak aku bisa menjadi orang tua yang ikhlas membesarkan dan mendidik anak agar jadi umat Nabi Muhammad yang baik. Kalau pun aku harus mengharap balasan, yang kuharap hanyalah doa anak yang sholeh yang kelak bisa menjadi amal jariyah bagiku. Terakhir, aku harap aku tidak menjadi orang tua yang membuat anaknya enggan menikah ketika masanya tiba.

Nah, kembali pada kamu. Seandainya itu terjadi pada orang di sekitarmu, temanmu atau bahkan dirimu sendiri, apa yang menurutmu sebaiknya dilakukan? Atau pernahkah kamu mengalami hal serupa? Bagi-bagi pendapat dan pengalamannya ya!
 

Tulisan Populer

BERLANGGANAN VIA EMAIL

Selalu ketinggalan tulisan terbaruku? Tinggalkan saja alamat emailmu! Jadi aku bisa memberitahumu tiap kali sebuah tulisan baru terbit.