Menikah atau Berkarir?

Selasa, 25 Oktober 2016

advertisement
mana yang lebih dulu harus dilakukan perempuan setelah lulus kuliah berkarir atau menikah

Jelas negeri kita sudah banyak berubah dibandingkan dengan keadaannya dulu ketika korespondensi Kartini pertama kali diterbitkan. Dulu tidak pernah ada seorang perempuan yang bertanya: “Bagaimana cara mengejar mimpi berkarir di gedung yang tinggi tanpa menelantarkan anak di rumah?” Tapi sekarang pertanyaan itu muncul bahkan mengemuka.

Tidak seperti perempuan-perempuan dulu yang bermimpi menikah dan membesarkan anak mereka sendiri, perempuan-perempuan hari ini tergoda untuk bermimpi punya karir dan gaji yang lebih besar dari laki-laki. Jika saja tidak sedang terancam hamil di luar nikah, mungkin perempuan-perempuan ini lebih memilih untuk bekerja berpuluh-puluh jam seminggu dan mewujudkan mimpi mereka itu daripada menerima lamaran seorang laki-laki mapan. Beda sekali kan?

Pertanyaannya, mana yang sebaiknya lebih didahulukan, berkarir atau menikah? Adakah saat di mana menikah harus didahulukan dan saat di mana karir harus didahulukan? Maaf, aku tidak bisa memberi jawaban pasti. Seperti dalam tulisan-tulisanku yang lain, dalam tulisan ini aku hanya akan menuangkan sudut pandangku. Kamu boleh saja punya sudut pandang lain dan dengan itu menambah atau menyanggah sudut pandangku karena aku tak pernah memaksakan apapun. Jelas kan? Kita mulai ya…

TAK MUNGKINKAH MEMILIH KEDUANYA?

Tak mungkinkah berkarir setelah lebih dulu menikah? Apakah pasanganmu tak mengizinkanmu bekerja setelah menikah? Jika iya, tanyakan padanya kenapa? Tanyakan juga kenapa dia membiarkanmu bekerja sekarang! Jangan sampai kamu dibatasi oleh asumsi-asumsi yang hanya ada dalam pikiranmu sendiri! Tanya dan minta penjelasan!

Kalau kamu bertanya padaku, aku sendiri sebenarnya lebih suka istri yang tidak bekerja. Alasannya sederhana, aku tidak ingin anak-anakku tumbuh di luar pengawasan kedua orang yang benar-benar menyayanginya. Bisa jadi pendapat dan alasan pasanganmu berbeda jadi tanyakan padanya!

Jika nantinya dia bilang hal itu sudah menjadi prinsipnya, terimalah! Kamu tidak boleh memaksakan prinsip dan pandangan hidupmu pada orang lain. Itu berarti kalian tidak cocok. Kunci yang dia miliki bukan untuk gembokmu. Temukan orang lain yang memiliki kunci yang cocok untuk gembokmu!

Jika itu terlalu sulit bagimu, melunak dan berubahlah! Cobalah untuk memahami pasanganmu lebih jauh dan berpikir lebih positif! Bukankah dia melarangmu bekerja demi kebaikanmu dan anak-anak kalian? Mungkin saja dia takut anak kalian lebih sayang pada pengasuhnya ketimbang orang tuanya sendiri, ya kan?

TANYA DIRIMU SENDIRI

Kenapa kamu begitu tamak ingin melakukan keduanya sekaligus? Kenapa kamu ingin menikah? Ingin melakukan sunnah Nabi menuntaskan separuh agamamu? Ingin lari dari rumah orang tuamu? Sudah terlalu sering digantung mantan pacarmu? Atau takut terjerumus pada dosa?

Kenapa pula kamu ingin berkarir? Ingin membuktikan pada mantan pacar calon suamimu bahwa kamu lebih baik? Ingin punya sesuatu untuk mengancam jika suamimu macam-macam? Atau jangan-jangan orang tuamu menuntut uang kuliah yang telah ia berikan padamu?

Setelah menjawab itu semua, aku yakin kamu akan lebih apa yang sebenarnya kamu butuhkan. Jika kamu masih merasa ingin melakukan banyak pencapaian dalam karirmu, jangan perlu khawatir dan terburu-buru untuk memutuskan menikah. Gelutilah dulu apa yang sudah menjadi impianmu. Tuntaskan dulu segala hasrat dan rasa ingin tahumu. Tapi jangan marah padaku jika suatu saat kamu menyadari:

“Di balik seorang laki-laki yang sukses berkarir selalu ada perempuan hebat dan keluarga yang bahagia. Di balik seorang perempuan yang sukses berkarir selalu ada anak-anak yang bermasalah dan keluarga yang hancur berantakan.”

Bagaimana tidak? Apa mungkin ibu yang suka bepergian dengan laki-laki yang bukan suaminya dan pulang larut malam sanggup mengingatkan anak-anaknya untuk tidak melakukan hal yang sama? Tidak mungkin kan? Kalau pun mungkin, apakah anak-anaknya akan mendengarkan? Anak-anak yang lebih banyak menghabiskan waktu dengan pengasuhnya itu pastilah lebih mendengarkan kata-kata pengasuhnya walaupun ia hanya tamat SMA.

Seorang perempuan yang sudah banyak berkorban untuk mengejar karir biasanya bertanya balik: “Apa aku harus keluar dari pekerjaan yang sudah susah payah kudapatkan karena harus mengurus suami dan membesarkan anak?” Dan jika ditanya seperti itu paling-paling aku hanya menjawab, “Tergantung, mana yang menurutmu lebih besar dan lebih penting, perusahaan yang telah menerimamu bekerja atau keluargamu?”

buat apa kuliah tinggi-tinggi kalau cuma jadi istri dan ibu rumah tangga menikah muda jalan keluar kemiskinan


Aku tahu betapa berat melepaskan karir, terlebih jika itu adalah karir impianmu. Aku tahu kamu tak akan bisa mudah melepaskannya begitu saja. Butuh kesiapan yang tak main-main untuk rela menanggalkan semua yang sudah kamu raih selama ini. Karena itu pikirkanlah dan jangan ragu untuk berdiskusi denganku lebih jauh di kolom komentar.
 

Tulisan Populer

BERLANGGANAN VIA EMAIL

Selalu ketinggalan tulisan terbaruku? Tinggalkan saja alamat emailmu! Jadi aku bisa memberitahumu tiap kali sebuah tulisan baru terbit.