Kamu Kuat atau Sok Kuat, Girls?

Jumat, 02 Desember 2016

advertisement
wanita kuat dan mandiri gak boleh cengeng

Seorang perempuan datang mengadu pada kekasihnya tentang masalah yang timbul akibat perbuatannya sendiri. Perempuan itu berharap laki-laki itu menjadi pelipur laranya. Dalam bayangan si perempuan, laki-laki itu bakal bilang, “Yang sabar ya, Beb!” Sama sekali gak terpikir oleh si perempuan, laki-laki itu bakal bilang sama dia,


“Aku sih gak heran, Beb. Aku udah tahu ini bakal terjadi.”

Si perempuan heran, “kalau kamu udah tahu, kenapa kamu gak kasih tahu sama aku?”

“Aku udah coba kasih tahu tapi kamu bandel. Waktu itu kamu bilang kamu udah gede dan tahu mana yang terbaik buat kamu, jadi aku biarin.”

Si perempuan nunduk sedih rada kesel campur kecewa, “kalau aja waktu itu kamu gak biarin aku, pasti jadinya gak bakal kayak gini.”

“Jadi kamu mau bilang ini salah aku?” tanya si laki-laki merasa disindir.

“Memangnya salah siapa lagi? Yang laki-laki kan kamu! Yang lebih rasional kan kamu! Masak kamu lebih nurutin pendapat perempuan yang sering bergerak tanpa dasar logika ketimbang akal sehat kamu sendiri!”

“Oh, kalo gitu aku minta maaf ya! Selama ini aku kira kamu setangguh yang selalu kamu ucapkan. Ketika kamu berani menentang pilihan aku dan aku kira kamu siap menanggung akibat perbuatanmu sendiri. Ternyata kamu cuma besar mulut doang!”

Menyadari kesalahannya, si perempuan mulai sesegukan, “kamu kok ngomongnya kasar gitu sih?”

“Apa lagi sebutan yang pantas bagi orang yang gak mampu bertanggung jawab tapi sok jago mengambil keputusan? Dulu aku kasih saran kamu gak dengerin, sekarang udah kayak gini kamu datang dan nyalahin aku.”

Si perempuan mulai nangis, “tapi aku kan cuma perempuan.”

“Kok tiba-tiba ngomong aku kan cuma perempuan? Mana perempuan kuat dan mandiri yang selama ini aku kenal? Mana perempuan yang biasanya gak pernah kalah sama laki-laki? Mana perempuan yang biasanya berdiri paling depan untuk emansipasi? Mana perempuan sombong yang tidak butuh laki-laki itu?”

“Aku salah, Beb. Aku salah. Aku akuin aku gak cukup mampu menanggung beban seberat ini dan aku butuh kamu untuk berada di sisi aku. Aku akuin aku salah waktu menentang pilihan rasional kamu padahal aku masih cengeng kayak gini. Aku akuin selama ini aku pura-pura kuat dan mandiri supaya kamu gak semena-mena sama aku.”

“Kamu pikir aku bakal ketipu untuk yang ketiga kalinya? Aku tahu ini kamu cuma kayak gini pas kena masalah doang. Aku tahu kalau hari ini aku maafin, besok kamu bakal balik jadi perempuan sok kuat yang merasa gak butuh laki-laki seperti biasanya lagi. Aku tahu kamu belum bener-bener ngerti: keputusan hanya boleh diambil oleh mereka yang berani bertanggung jawab, bukan oleh orang cengeng kayak kamu.”

“Maaf, sekali lagi maafin aku. Kalau besok aku berani ngambil posisi kamu sebagai laki-laki lagi, tolong jangan dengarkan aku! Aku lemah, aku gak tahu apa-apa. Jadi, kamu gak boleh ngalah sama aku sekuat apapun aku memaksa dan menggoda. Kalau sedikit saja dalam pikiran kamu terlintas untuk menuruti rengekan aku, ingatlah kalau kamu turuti permintaanku saat itu, suatu saat aku juga akan menyesal kayak gini dan ujung-ujung nuntut tanggung jawab kamu juga. Jadi please maafin aku!”

“Aku paling benci sama perempuan yang sok tahu dan sok kuat di hadapan laki-laki tapi cengeng di belakang hari. Aku jauh lebih menghargai perempuan yang mengaku butuh laki-laki sejak awal ketimbang perempuan yang menangis di akhir nanti. Kamu serius? Kamu udah ngerti siapa yang laki-laki dan siapa yang perempuan?” tanya si laki-laki meyakinkan.

“Aku udah ngerti siapa yang harus memimpin dan siapa yang harus dipimpin.”

“Dan kamu percaya sama aku?”

“Aku udah kenal kamu sejak lama. Aku percaya kamu gak bakal nyakitin aku.”

Mereka berdua saling berpandangan. Dalam hati, si laki-laki tahu kejadian ini akan terus berulang hingga dia mati tapi apa lagi yang bisa dia lakukan selain menerima permintaan maaf kekasihnya. Bagaimanapun kekasihnya itu cuma seorang perempuan.
 

Tulisan Populer

BERLANGGANAN VIA EMAIL

Selalu ketinggalan tulisan terbaruku? Tinggalkan saja alamat emailmu! Jadi aku bisa memberitahumu tiap kali sebuah tulisan baru terbit.