Ada setidaknya tiga ilmu yang harus dituntut seorang muslim untuk menjadi orang lurus imannya serta diterima amalnya, yakni tauhid, fiqih dan tasawuf. Secara ringkas, tauhid bicara tentang apa-apa yang harus dipercayai seorang muslim untuk disebut beriman. Fiqih bicara tentang apa-apa yang harus dilakukan seorang muslim untuk berislam. Tasawuf bicara tentang apa-apa yang harus dijaga seorang muslim untuk menjaga amalnya dari hal-hal yang mungkin merusaknya serta berihsan.
Masalahnya muncul ketika kaidah-kaidah ilmu itu diterapkan di luar bidang pembahasannya. Jika ketenangan dalam perkara rezeki yang diajarkan dalam tauhid menjadikanmu tenang-tenang saja di rumah saat kamu seharusnya membuka toko atau berangkat kerja, itu masalah. Jika kerendahan hati yang diajarkan dalam tasawuf kamu jadikan penghalang untuk mengajak pada kebaikan dan mencegah kemunkaran, jelas bahwa kamu telah menerapkan kaidah-kaidah itu di tempat yang salah. Tapi kedua jenis kesalahan itu tidak lebih fatal dari kesalahan orang yang menerapkan kaidah-kaidah fiqih dalam beriman.
Tidak ada yang salah dengan kaidah-kaidah fiqih jika kamu menggunakannya untuk berislam. Islam yang merupakan amalan lahir tentu membutuhkan rumusan kaidah-kaidah semacam fiqih untuk diamalkan. Tetapi jika kaidah-kaidah yang dirumuskan para ahli fiqih itu kamu jadikan pegangan dalam beriman, kamu berada dalam bahaya besar.
Dalam kaidah-kaidah fiqih terdapat celah yang dapat digunakan dajjal untuk masuk dan meruntuhkan kepercayaan dan bahkan keyakinanmu kepada Allah. Sebagai gambaran perhatikanlah bahwa fiqih melarang kita mendatangi tukang ramal dan mempercayai ramalannya tetapi membolehkan kita menonton ramalan cuaca dan menjadikannya pertimbangan saat memutuskan apakah harus membawa payung atau tidak.
Fiqih menggolongkan jimat yang dipercaya dapat memberi kekuatan pada penggunanya sebagai bentuk kesyirikan tapi penggunaan mineral-mineral tertentu yang secara saintifik dipercaya memperlancar aliran darah karena memancarkan gelombang elektromagnetik tertentu dianggap sama sekali tidak bertentangan dengan tauhid.
Dari dua contoh di atas fiqih seolah berkata bahwa, keimanan dan kemusyrikan hanya dibatasi oleh pengetahuan atas mekanisme kerja. Jika mekanismenya tidak diketahui maka tidak boleh dipercaya. Jika mekanismenya diketahui maka boleh saja dipercaya.
Jika memang demikian, bukan mustahil segala sesuatu yang hari ini dianggap kemusyrikan dalam waktu dekat akan dianggap oleh fiqih sah-sah saja. Katakanlah besok ada yang melakukan penelitian dan melalui data statistik menyimpulkan bahwa 70% pernikahan pasangan dengan weton tertentu memang berakhir dengan perceraian. Apakah fiqih masih akan menganggap muslim yang membatalkan pernikahannya karena percaya pada hasil penelitian itu sebagai pelaku kemusyrikan? Bagaimana jika dikatakan bahwa kitab primbon itu seluruhnya hanyalah kumpulan kesimpulan berdasarkan pengamatan ratusan tahun lamanya?
Itulah sebabnya, kamu tidak bisa beriman mengikuti kaidah-kaidah fiqih (yang memang disusun untuk memastikan kamu berislam dengan baik, bukan beriman dengan baik). Untuk beriman dengan baik yang harus kamu ikuti adalah kaidah-kaidah tauhid.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
هَلْ تَدرُوْنَ مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ؟ قَالُوْا: اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: قَالَ: أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِيْ مُؤْمِنٌ بِيْ وَكَافِرٌ، فَأَمَّا مَنْ قَالَ: مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللهِ وَرَحْمَتِهِ، فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِيْ كَافِرٌ بِالْكَوْكَبِ، وَأَمَّا مَنْ قَالَ: مُطِرْنَا بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا، فَذَلِكَ كَافِرٌ بِيْ مُؤْمِنٌ بِالْكَوْكَبِ
“Tahukah kamu, apakah yang difirmankan oleh Tuhanmu?” Mereka (para sahabat) menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Beliau pun bersabda, “Dia berfirman, ‘Pagi ini di antara hamba-hamba-Ku ada yang beriman dan ada pula yang kafir. Adapun orang yang mengatakan, ‘Hujan turun kepada kita berkat karunia Allah dan rahmat-Nya, maka dia beriman kepada-Ku dan kafir kepada bintang, sedangkan orang-orang yang mengatakan, ‘Hujan turun kepada kita karena bintang ini atau bintang itu, maka dia kafir kepada-Ku dan beriman kepada bintang’.” (HR. Bukhari no. 1038)
Dalam kaidah tauhid tidak ada celah apapun yang didapat digunakan dajjal untuk masuk dan meruntuhkan keyakinanmu. Dalam kaidah tauhid amat jelas, siapa yang beriman kepada sebab-sebab yang Allah jadikan maka dia telah melakukan syirik, siapa yang tidak menyandarkan fenomena apapun kepada sebab-sebab itu tetapi semata-mata menyandarkannya kepada Allah maka dialah orang yang beriman kepada-Nya.
Meskipun sejak kecil kamu diajari bahwa matahari terbit di Timur karena bumi berputar pada porosnya, dalam tauhid kamu baru dikatakan beriman jika kamu berkata matahari terbit di Timur karena Allah menerbitkannya dari Timur. Meskipun dokter berkata bahwa kamu bisa tertular jika kamu tidak memakai pelindung saat menjenguk temanmu yang sedang dikarantina, dalam tauhid kamu baru dikatakan beriman jika kamu berkata, “Tidak ada yang namanya penularan. Jika Allah menghendaki, aku akan sakit. Jika Allah menghendaki, aku akan tetap sehat.”
Dan tolong, jangan jadikan ilmu tauhid ini sebagai alasan untuk tidak melakukan apa yang diperlukan! Bukankah kita telah bicara panjang lebar mengenai haramnya menerapkan suatu kaidah ilmu di luar bidang pembahasannya?

