Sesaat setelah Iblis dikutuk dan bersumpah untuk membuktikan bahwa manusia tidak lebih baik dari dirinya, Iblis berpikir “bagaimana cara menunjukkan pada seluruh alam bahwa pendatang baru ini tidak lebih dari lumpur yang diberi bentuk?”
Tidak lama kemudian sampailah ia pada sebuah kesimpulan, “untuk menunjukkan bahwa mereka hanyalah kotoran yang tidak layak dimuliakan, aku harus terlebih dahulu tunjukkan bahwa mereka tidak lebih baik dariku. Jika mereka pikir aku ini melampaui batas, akan kuperlihatkan bahwa mereka pun tidak jauh berbeda.”
Maka Iblis mencari batasan yang ditetapkan Allah bagi Adam dan istrinya lalu menemukan ‘pohon’ itu. Iblis pun berkata pada Adam dan istrinya bahwa pohon itu akan memberikan keabadian dan kekuasaan melebihi apa yang diberikan kepada mereka saat itu. Iblis berkata demikian agar seluruh penduduk langit dapat melihat bahwa Adam dan istrinya tidak kurang tamak jika dibandingkan dengan dirinya dan bahwa mereka bersedia melampaui batasan yang Allah tetapkan demi ketamakan mereka, persis seperti dirinya sendiri.
PELANGGARAN
Singkat cerita, Adam dan istrinya pun tergelincir. Mereka melanggar protokol. Mereka tidak hanya mendekati ‘pohon’ yang tidak boleh didekati itu tetapi bahkan juga mencicipi ‘buah’-nya.
Pelanggaran itu menghasilkan rasa bersalah dan rasa bersalah itu menjadikan manusia memandang kotor dirinya sendiri. Dan memang itulah yang Iblis inginkan. Iblis ingin kita memandang diri kita persis sebagaimana dirinya sendiri memandang, kotoran yang tak pantas dimuliakan.
‘Buah’ yang mereka cicipi membuat apa yang sebelumnya tidak pernah terperhatikan menjadi sesuatu yang tidak mudah untuk disingkirkan dari pikiran. Tidak halalnya ‘pohon’ itu untuk mereka dekati serta tidak mampunya mereka menahan diri membuat mereka merasa malu. Setiap kali Adam melayangkan pandangannya ke arah perkara yang memalukan itu, teringatlah ia akan pelanggaran yang ia lakukan sambil bertanya-tanya, “bagaimana bisa aku sampai lepas kendali?” Begitu pula istrinya. Maka mereka pun mulai menutupi kemaluan (serta aurat) mereka dengan dedaunan surga.
RASA MALU
Pada titik itu, Iblis berhasil membuat manusia menyadari bahwa dirinya tidak bebas dari kekurangan. Meskipun dalam dirinya ada bagian yang Allah banggakan di hadapan seluruh makhluk-Nya, ada bagian dari dirinya yang tidak ingin ia perlihatkan kepada siapapun. Setelah memperlihatkan kepada Adam dan istrinya betapa bercelanya diri mereka, Iblis berharap mereka akan dikuasai rasa malu sehingga tidak lagi merasa layak dekat-dekat dengan Allah kemudian menjauh.
Bersegeranya Adam dan istrinya menutupi kemaluan mereka menunjukkan bahwa rasa malu – yang dimanfaatkan Iblis dan keturunannya untuk menjauhkan Adam dan keturunannya dari Allah – merupakan sifat sejak awal melekat pada manusia dan membedakan mereka dari hewan.
Hewan tidak mengenal rasa malu karena sejak awal hewan tidak pernah mendapatkan gelar kehormatan yang harus dijaga demi kemuliaan yang memberi gelar. Sedangkan manusia yang telah dibanggakan Allah di seluruh makhluk-Nya tidak dapat mencederai kehormatannya sendiri tanpa mencederai kehormatan Allah yang telah memuliakannya. Selain itu, ke atas hewan Allah tidak pernah memberikan perintah atau larangan (sebagaimana yang Dia berikan kepada makhluk-Nya yang berakal) sehingga mereka tidak dapat melanggar apapun.
Pertanyaannya, bagaimana manusia yang kotor ini dapat tetap berada di dekat Allah Yang Maha Suci tanpa melepaskan perhiasan yang membedakannya dari hewan?
PAKAIAN PEMBERIAN ALLAH
Allah menciptakan setiap makhluk dengan kelebihan-kelebihan dan kekurangan-kekurangan. Iblis merasa tinggi dengan kelebihan-kelebihan yang dianugerahkan padanya dan tidak ingin manusia dilihat kecuali kekurangan-kekurangannya. Ketika Iblis memperlihatkan aib manusia pada seluruh alam, manusia pun merasa malu dan mulai menutup dirinya.
Allah yang tidak ingin manusia jauh darinya memberitahu seluruh alam bahwa sumber masalahnya bukanlah rasa malu tetapi pelanggaran yang disponsori oleh setan itu. Maka Allah jadikan bagi Adam dan keturunannya pakaian untuk menutupi kekurangan-kekurangannya. Allah berfirman,
“Wahai anak Adam, Kamu telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi aib-mu dan sebagai perhiasan Dan pakaian takwa, itulah yang terbaik.” (QS. Al-A’raf: 26)
Dengan memberi manusia sesuatu untuk menutupi kekurangannya, Allah menyelamatkan rasa malu yang membedakan manusia dari makhluknya yang tidak berakal sekaligus memungkinkan manusia yang tidak suci dari kesalahan untuk tetap berada di sisi Yang Maha Suci.
***
Dari kisah tersingkapnya aib Nabi Adam itu, tahulah kita bahwa iblis dan keturunannya akan senantiasa mengupayakan agar kita melampaui batas dan menggunakan pelanggaran yang akhirnya kita lakukan untuk membuat kita merasa terlalu kotor untuk mendekatkan diri kepada Allah. Tetapi Allah memberi kita pakaian dari benang untuk menutupi aib lahir kita serta pakaian taqwa untuk menutupi aib batin kita. Yang demikian itu adalah bukti kasih sayang-Nya serta penerimaannya atas kekurangan-kekurangan kita. Yang demikian itu agar kita tidak berputus asa dalam mendekatkan diri kepada-Nya.
Bersambung ke: Kisah Nabi Adam, Kisah Kita Semua
