لَآ إِكْرَاهَ فِى ٱلدِّينِ“Tidak ada paksaan dalam agama. ...” (QS. Al-Baqarah: 256)
Kebanyakan orang membaca ayat tersebut semata-mata sebagai kaidah hukum agar kita tidak memaksa siapapun untuk menerima agama ini saat berdakwah. Hanya sedikit saja yang melihat ayat ini sebagai gambaran atas kenyataan bahwa,
“Memang tidak (mungkin) ada sesuatu yang bisa dipaksakan dalam (sesuatu yang disebut) agama.”
Dalam tulisan ini kita akan bahas mengapa.
Satu hal yang kita ketahui pasti tidak dapat dipaksakan adalah cinta. Kata Selena Gomez, “the heart wants what it wants.” Kamu bisa memaksa seseorang menerimamu sebagai pacar atau pasangan sah. Kamu bisa menyuruhnya membuatkanmu teh setiap pagi dan menyambut kedatanganmu setiap pulang. Tapi segala pemberian dan bahkan senyumnya tidak dapat disebut cinta jika mereka datang dari keterpaksaan.
Seorang perempuan tidak boleh menganggap kado yang diberikan pacarnya sebagai bukti cinta jika dia sendirilah yang terus menerus meminta kado itu. Senyum manis seorang istri di hadapan suaminya sepulang kerja baru disebut tindakan cinta (act of love) jika ia lahir dari kerelaan hati si istri. Pertolongan seorang satpam kepada seorang pegawai yang kendaraannya mogok baru dapat disebut kepedulian jika satpam itu bebas untuk tidak menolong jika ia tidak ingin.
Selama seseorang masih bebas memilih melakukan sesuatu atau meninggalkannya, perbuatannya masih dapat dianggap tindakan cinta meskipun mereka tidak lahir dari inisiatifnya sendiri. Tetapi jika kebebasan memilih itu telah hilang, apa pun yang dilakukan atau diberikannya tidak dapat disebut kebaikan, tidak dapat disebut cinta.
Karena itu, jelaslah bahwa cinta tidak dapat dipaksakan. Jika sesuatu dapat dipaksa, itu bukan cinta. Lalu bagaimana dengan agama?
***
Agama lahir dari perasaan berhutang seseorang pada sesuatu. Islam lahir dari perasaan berhutang seseorang pada satu-satunya Dzat yang kuasa menghadirkannya di bumi, memberinya rizki, merasakan padanya berbagai nikmat dan menyelamatkannya dari berbagai petaka.
Seseorang yang menjadikan suatu tokoh sebagai tuhannya berarti telah menjadikan dirinya sebagai hamba dari tokoh itu. Seseorang yang menjadikan uang sebagai tuhan berarti telah menjadikan dirinya sendiri sebagai pelayan bagi uang itu. Sebagai pelayan tentu itu akan berusaha sekuat tenaga memenuhi tuntutan uang itu, memastikan langgengnya kedudukan uang itu dan bahkan marah ketika tuannya itu direndahkan.
Setelah memahami semua itu ketahuilah pula bahwa penghambaan hanyalah tingkatan tertinggi dari cinta sedangkan pelayanan adalah bentuk paling nyata dari cinta. Ali bin Abi Thalib berkata: seseorang adalah hamba dari apa yang dicintainya. Jika sudah demikian, jelaslah bahwa agama adalah ekspresi cinta. Lalu, apakah dapat cinta itu dipaksakan? Tidak!
Itulah sebabnya, tidak ada paksaan dalam agama.
***
Seseorang mungkin saja memaksamu shalat lalu kamu patuh. Pemilik rumah yang kamu sewa mungkin saja memaksamu melihat altar sesajen setiap kamu masuk ke ruang keluarga. Pemerintah mungkin saja memaksamu pergi ke gereja setiap awal pekan. Tetapi semua itu tidak lantas menjadikanmu sebagai seorang muslim, hindu atau katolik.
Agama lahir dari cinta dan cinta bukan sesuatu yang bisa dipaksa.
