“Seandainya dulu Nabi Adam tidak melanggar larangan Allah, tentulah kita tidak perlu bersusah payah melalui kerasnya kehidupan dunia ini” Adakah di antara teman-teman yang pernah berpikir begitu? Kukira aku pun pernah.
Kesalahpahaman itu serta kesalahpahaman lain mengenai turunnya Nabi Adam ke bumi ini kukira berasal dari dangkalnya cara kisah tersebut diceritakan saat kita kecil. Karena itulah kukira versi yang lebih utuh dari kisah itu amat perlu untuk dibaca oleh mereka yang pemikirannya telah berkembang.
Sejak awal, Nabi Adam memang telah dimaksudkan Allah untuk menjadi khalifah (yakni wakil-Nya) di muka bumi.
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّى جَاعِلٌ فِى ٱلْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوٓا۟ أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ ٱلدِّمَآءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّىٓ أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan di muka bumi seorang khalifah’. Mereka berkata: ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?’ Tuhan berfirman: ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui’.” (QS. Al-Baqarah: 30)
Menjadi wakil Allah di muka bumi berarti menjadi seseorang yang menunjukkan kasih sayang di sana (sebab Allah Maha Pengasih Maha Penyayang), menjadi seseorang yang menebarkan kedamaian dan menegakkan keadilan (sebab Allah Maha Adil), dan juga menjadi seseorang yang menunjuki jalan kebenaran (sebab Allah Maha Memberi Petunjuk). Singkatnya, menjadi wakil Allah di muka bumi mengharuskan seseorang mampu melahirkan kebaikan-kebaikan. Dan itu adalah sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh malaikat.
Untuk dapat melahirkan kebaikan-kebaikan, seseorang haruslah memiliki kebebasan memilih apa yang hendak ia lakukan. Seseorang yang tidak dapat memilih untuk tidak melakukan suatu kebaikan tidaklah dapat dikatakan telah melakukan suatu kebaikan. Seorang yang diancam dengan pemecatan jika tidak mau membantu pelanggan yang kesulitan, tidak disebut telah melakukan kebaikan saat membantu pelanggannya. Persis begitulah keadaan para malaikat.
Meskipun mereka senantiasa bertasbih dan mengkuduskan Allah sebagaimana pengakuan mereka, mereka tidak memiliki apa yang benar-benar diperlukan untuk menjadi khalifah Allah di muka bumi, kebebasan memilih sikap. Allah swt berfirman,
لَّا يَعْصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ“Tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6)
AMANAH KEHENDAK BEBAS
Karena kebebasan memilih ini datang bersama tanggung jawab untuk memilih yang benar, kehendak bebas ini disebut juga amanah. Allah menceritakan bahwa amanah kehendak bebas ini pernah ditawarkannya kepada langit dan bumi tapi mereka takut harus bertanggung jawab dan menanggung adzab, maka mereka pun buru-buru mengembalikan amanah itu kepada Allah.
“Sesungguhnya kami telah menawarkan amanah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, tetapi semuanya enggan untuk memikul tanggung jawab itu sedang mereka khawatir tidak akan melaksanakannya. Lalu dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguh ia amat zalim dan amat bodoh.” (QS. Al-Ahzab: 72)
Tetapi manusia menerima amanah itu. Manusia menerima akal yang memungkinkannya bebas memilih sikap itu sebagai anugerah. Maka jadilah ia makhluk yang berpotensi memilih hal yang salah secara sengaja (zhalim) atau tidak sengaja (jahil).
Adapun langit dan bumi, jadilah mereka makhluk yang tunduk pada hukum gravitasi serta semua hukum lain yang Allah tetapkan, suka atau tak suka.
“Dia berfirman kepadanya dan kepada bumi, ‘Tunduklah kepada-Ku dengan sukarela atau terpaksa.’ Keduanya menjawab, ‘Kami tunduk dengan sukarela.’” (QS. Fushshilat: 11)
MENANTI PELANGGARAN PERTAMA
Dibutuhkan sejumlah waktu tertentu hingga akal alias kehendak bebas ini bekerja secara penuh dalam diri Nabi Adam. Karena Nabi Adam tidak dapat menjalankan misinya tanpa kehendak bebas ini, diputuskan bahwa Nabi Adam tidak akan diutus ke tempat ia menjabat sebagai khalifah hingga kehendak bebasnya itu terbukti bekerja secara penuh di dalam dirinya. Tahukah kamu bagaimana cara membedakan makhluk yang punya kehendak bebas dari makhluk yang hanya dapat mengikuti perintah?
Makhluk yang punya kehendak bebas dapat melanggar protokol.
Singkat cerita, ditetapkanlah sebuah larangan di dalam surga yang didiami Nabi Adam dan istrinya itu agar dapat diketahui kapankah keduanya dapat melanggar suatu protokol, kapankah kehendak bebas dalam diri mereka bekerja secara sempurna dan kapankah mereka akhirnya siap untuk diutus ke tempat mereka harus menjabat sebagai khalifah Allah.
Sekarang dapatkah kamu membayangkan bahwa ketika akhirnya protokol itu terlanggar, Allah tidak marah seperti yang selama ini kamu kira tetapi tersenyum? Cuz the time has finally arrived.
***
Ini bukan semata kisah tentang ayah dan ibu kita tapi tentang kita semua. Akal ini, kehendak bebas ini mungkin berpotensi menjebloskan kita ke dalam pertanggungjawaban atas pilihan-pilihan dan bahkan juga hukuman-hukuman. Tapi akal inilah yang menjadikan kita makhluk yang paling dibanggakan Allah di hadapan seisi langit dan bumi. This is my gift and my curse.
Jadi janganlah lagi kamu mengatakan Nabi Adam terusir dari surga. Sebab tidak seperti Iblis yang terusir, Nabi Adam turun untuk menjalankan tugasnya sebagai khalifah Allah di muka bumi. Dalam tulisan berikutnya kita akan luruskan beberapa hal lagi mengenai asal muasal hadirnya kita di bumi ini. Stay tuned!
