Nabi berkata, “Siapa yang menghidupkan sunnahku, maka sungguh ia mencintaiku. Siapa yang mencintaiku, kelak akan bersamaku di dalam surga.” ...

Pelajaran Tersembunyi di Balik Ucapan Nabi

mengambil manfaat penuh dari hadits nabi muhammad sang jawamiul kalim

Nabi berkata, “Siapa yang menghidupkan sunnahku, maka sungguh ia mencintaiku. Siapa yang mencintaiku, kelak akan bersamaku di dalam surga.”

Hadits itu secara literal memberitahu kita mengenai siapa yang pengakuan cintanya kepada Nabi bukan sekadar kata-kata. Tetapi belakangan aku menyadari bahwa kita tidak hanya dapat mengambil pelajaran dari apa yang Nabi katakan. Kita juga dapat mengambil pelajaran dari cara Nabi menyampaikan suatu pesan dan kepada siapa pesan itu disampaikan.

Pelajaran paling jelas tentang itu kukira bisa didapatkan dari hadits tentang penduduk surga ini.

Dari Anas bin Malik, ia berkata, ketika kami sedang duduk bersama Rasulullah saw., beliau bersabda, “Akan muncul kepada kalian seorang laki-laki penghuni surga.” Lalu muncul seorang laki-laki Anshar yang jenggotnya masih bertetesan air sisa wudhu, sambil menggantungkan kedua sandalnya pada tangan kirinya.

Esok harinya Nabi saw bersabda seperti juga, lalu muncul laki laki itu lagi seperti yang pertama, dan pada hari ketiga Nabi saw. bersabda seperti itu juga dan muncul laki laki itu kembali seperti keadaan dia yang pertama.

Ketika Rasulullah saw. berdiri, Abdullah bin Amr bin Al-Ash mengikuti laki-laki tersebut dengan berujar “Kawan, saya ini sedang bertengkar dengan ayahku dan saya bersumpah untuk tidak menemuinya selama tiga hari, jika boleh, ijinkan saya tinggal di tempatmu hingga tiga malam.”

“Tentu”, jawab laki-laki tersebut.

Anas bin Malik berkata, Abdullah ra bercerita; Aku tinggal bersama laki-laki tersebut selama tiga malam, anehnya tidak pernah aku temukan ia mengerjakan shalat malam sama sekali, hanya saja jika ia bangun dari tidurnya dan beranjak dari ranjangnya, lalu berdzikir kepada Allah ‘azza wajalla dan bertakbir sampai ia mendirikan shalat fajar, selain itu dia tidak pernah terdengar berbicara kecuali yang baik-baik saja.

Maka ketika berlalu tiga malam dan hampir-hampir saja saya menganggap sepele amalannya, saya berkata, “Wahai kawan, sebenarnya antara saya dengan ayahku sama sekali tidak ada percekcokan dan saling mendiamkan seperti yang telah saya katakan, akan tetapi saya mendengar Rasulullah saw bersabda tentang dirimu tiga kali, “akan muncul pada kalian seorang laki-laki penghuni surga, lalu kamulah yang muncul tiga kali tersebut, maka saya ingin tinggal bersamamu agar dapat melihat apa saja yang kamu kerjakan hingga saya dapat mengikutinya, namun saya tidak pernah melihatmu mengerjakan amalan yang banyak, lalu amalan apa yang membuat Rasulullah saw sampai mengatakan engkau ahli surga?”

Laki-laki itu menjawab, “Tidak ada amalan yang saya kerjakan melainkan seperti apa yang telah kamu lihat.”

Maka tatkala aku berpaling, laki-laki tersebut memanggilku dan berkata, “Tidak ada amalan yang saya kerjakan melainkan seperti apa yang telah kamu lihat, hanya saja saya tidak pernah mendapatkan pada diriku rasa ingin menipu terhadap siapapun dari kaum muslimin, dan saya juga tidak pernah merasa iri dengki kepada seorang atas kebaikan yang telah dikaruniakan oleh Allah kepada seseorang.”

Maka Abdullah bin Amr berkata, “Inilah amalan yang menjadikanmu sampai pada derajat yang tidak bisa kami lakukan.”

Dari teks hadits itu dapat kita ketahui bahwa amalan batin seperti tiadanya rasa ingin menipu seseorang dan tiadanya rasa iri dengki atas kebaikan yang diterima seseorang merupakan amalan besar yang dapat menjadikan pengamalnya terhitung sebagai penduduk surga sejak masih hidup di dunia. Tetapi coba perhatikan, kepada di hadapan siapa perkara itu Nabi sampaikan? Abdullah bin Amr bin Al-Ash. Tahukah kamu siapa Abdullah bin Amr bin Al-Ash?

Abdullah bin Amr bin Al-Ash adalah seorang sahabat yang luarbiasa bersemangat dalam amalan lahir. Ia selalu shalat malam tanpa tidur, berpuasa setiap hari dan mengkhatamkan Al-Qur’an setiap beberapa hari. Hal itu direkam dengan sangat jelas dalam hadits riwayat Ahmad ini.

“Dari Abdullah bin Amr, dia berkata: "Ayahku menikahkanku dengan seorang wanita suku Quraisy. Ketika ia menemuiku, aku tidak mau (melayaninya) dan tidak selera terhadapnya. Yang demikian karena aku begitu kuat beribadah berupa puasa dan shalat.

Lalu Amr bin Al-Ash datang kepada menantu perempuannya dan menanyainya, "Bagaimana suamimu?" Ia menjawab, "Dia sebaik-baik suami, atau seperti suami yang paling baik. Sayangnya, ia tidak pernah melucuti pakaian kami (untuk bersetubuh) dan tidak pernah mengenal tidur bersamaku sekasur."

Kemudian dia pun menemuiku, mencaci maki dan mencercaku seraya berkata: "Aku telah menikahkanmu dengan seorang wanita Quraisy yang mempunyai kedudukan akan tetapi kamu malah menyusahkannya dan tidak memperlakukannya sebagai layaknya suami isteri."

Kemudian Amr bin Al-Ash menghadap Nabi Shallallahu'alaihi wasallam dan melaporkan kasusku kepada beliau. Lalu beliau mengutus utusan untuk memanggilku. Aku pun akhirnya menghadap beliau.

Beliau menanyaiku: "Apakah kamu selalu berpuasa di siang hari?" saya menjawab, "Ya." Beliau bertanya lagi, "Apakah kamu juga selalu melaksanakan shalat malam?" saya menjawab, "Ya." Beliau bersabda: "Saya berpuasa tapi juga berbuka (tidak berpuasa), saya melaksanakan shalat malam tapi juga tidur, dan aku juga mengumpuli para isteriku, barangsiapa tidak menyukai sunnahku berarti ia bukan golonganku."

Beliau berkata: "Bacalah (sampai khatam) Al Qur'an dalam waktu satu bulan!" Saya menjawab, "Aku lebih kuat dari itu." Beliau berkata: "Kalau begitu khatamkanlah dalam jangka waktu sepuluh hari." Aku berkata: "Aku lebih kuat dari itu." Salah satu dari keduanya, kalau tidak salah Hushain atau Al Mughiroh berkata: Beliau berkata "Kalau begitu khatamkanlah dalam jangka waktu tiga hari."

Ia berkata: Kemudian beliau bersabda lagi: "Berpuasalah tiga hari pada setiap bulan." Aku berkata: "Aku masih mampu jika lebih dari itu." Dan dia masih merasa mampu hingga Nabi berkata: "Kalau begitu berpuasalah sehari dan berbukalah (tidak berpuasa) sehari sebab seutama-utama puasa ialah puasa saudaraku, Nabi Daud."

Hushain berkata dalam hadis (yang diriwayatkannya): Kemudian beliau bersabda: "setiap hamba itu mempunyai rasa semangat, dan setiap rasa semangat itu pasti ada masa kebosanan, dan kebosanan mengalihkan kepada sunnah atau kepada bid'ah. Barangsiapa kebosanan mengalihkan kepada sunnah, berarti ia telah mendapat petunjuk, dan barangsiapa kebosanan dipergunakan selain itu, berarti ia binasa."” (HR. Ahmad no. 6188)

Sebagaimana sudah menjadi tabiat orang berilmu untuk cenderung merasa tinggi, sudah menjadi tabiat orang yang rajin melakukan amalan lahir untuk merasa lebih baik dari orang lain. Perhatikanlah bagaimana malaikat merasa lebih pantas dari manusia untuk dipilih sebagai khalifah!

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّى جَاعِلٌ فِى ٱلْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوٓا۟ أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ ٱلدِّمَآءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّىٓ أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ
"Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui"." (QS. Al-Baqarah: 30)

Karena itulah boleh jadi Nabi memberitahu keutamaan orang yang melakukan amalan batin di hadapan Abdullah bin Amr, yakni agar mereka yang cenderung pada amalan lahir tidak serta merta menganggap remeh orang-orang yang tampaknya tidak sesemangat mereka dalam amalan lahir.

Lalu perhatikan pula bagaimana cara Nabi meluruskan pemahaman Abdullah bin Amr. Nabi tidak langsung mengkoreksi kesalahpahaman Abdullah bin Amr (bahwa orang yang josh dalam amalan lahir sepertinya lebih layak mendapat sebutan penghuni surga ketimbang mereka yang nampaknya tidak melakukan amalan sebanyak itu). Nabi memanfaatkan keinginan Abdullah bin Amr terhadap surga untuk memancingnya mencaritahu sendiri apa yang menjadi kelemahannya dan menemukan sendiri pelajarannya.

Nabi tidak bicara langsung kepada Abdullah bin Amr untuk menyampaikan pesan itu tetapi menggunakan redaksi umum, “Akan muncul kepada kalian seorang laki-laki penghuni surga,” agar pesannya lebih mudah diterima. Nabi juga dengan sabar mengulangi usahanya menyadarkan sahabatnya itu berkali-kali hingga rasa penasaran dalam diri Abdullah bin Amr bangkit dan menggerakkannya menjemput pelajaran yang memang dimaksudkan untuknya.

***

Itulah kira-kira gambaran tentang bagaimana kita dapat mengambil manfaat dari cara Nabi menyampaikan sesuatu dan kepada siapa Nabi menyampaikan di samping apa yang Nabi sampaikan. Aku harap tulisan ini memicu semangat dalam diri teman-teman untuk memeriksa lebih jauh berapa banyak sebenarnya pelajaran yang dapat kita ambil dari ucapan Nabi yang dianugerahi jawamiul kalim.

Jika kalian hendak memulai, kukira baik sekali jika kalian mulai dari hadits yang kukutip di awal tulisan, “Siapa yang menghidupkan sunnahku, maka sungguh ia mencintaiku. Siapa yang mencintaiku, kelak akan bersamaku di dalam surga.” Tahukah kamu kepada sahabat seperti apa hadits itu Nabi sampaikan? Tahukah kamu kesalahpahaman apa yang hendak Nabi luruskan dengan ucapan beliau itu?