Thomas Hobbes memandang bahwa manusia pada dasarnya kacau sehingga dibutuhkan sejumlah syarat tertentu untuk mengubah keadaan alami itu menjadi suatu keteraturan seperti kehidupan bermasyarakat bernegara. Sebaliknya J.J. Rosseau memandang manusia pada dasarnya baik dan dibutuhkan suatu kondisi tertentu untuk memaksa manusia keluar dari tabiat alaminya itu. Masing-masing tokoh itu memiliki pendukung pendapat mereka sendiri. Hanya saja pandangan Hobbes dianut secara lebih luas dalam dunia sains sekarang ini, setidaknya begitulah yang kuamati.
Lazimnya penyiaran berita kriminal, susahnya menagih hutang dan maraknya perselingkuhan membuat sebagian besar kita percaya bahwa manusia secara alami akan cenderung pada keburukan jika tidak ada yang menahannya. Tapi apakah kita memang seburuk itu?
Meskipun dipopulerkan oleh Hobbes, pandangan bahwa manusia pada dasarnya kacau sebenarnya tidaklah pertama kali dicetuskan oleh manusia. Sebelum manusia pertama diciptakan, malaikat telah lebih dahulu meragukan potensi kebaikan manusia.
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّى جَاعِلٌ فِى ٱلْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوٓا۟ أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ ٱلدِّمَآءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ“Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" …” (QS. Al-Baqarah: 30)
Tidak hanya malaikat, jin ahli ilmu yang dulu merupakan guru para malaikat pun memandang manusia tidak lebih dari sekadar lumpur yang diberi bentuk. Tapi perhatikanlah bagaimana Tuhan kita memuliakan kita! Dia memilih kita menjadi wakil-Nya di muka bumi, membela kita di hadapan mereka yang meremehkan dan memuliakan kita dengan menjadikan segala sesuatu tunduk melayani keperluan-keperluan kita.
هُوَ ٱلَّذِى خَلَقَ لَكُم مَّا فِى ٱلْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ ٱسْتَوَىٰٓ إِلَى ٱلسَّمَآءِ فَسَوَّىٰهُنَّ سَبْعَ سَمَٰوَٰتٍ ۚ وَهُوَ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ“Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah: 29)
Tuhan kita bahkan menyelenggarakan sebuah kompetisi untuk menunjukkan potensi belajar kita yang luarbiasa. Malaikat kalah telak dalam kompetisi itu dan Allah bangga sekali pada kita.
قَالَ يَٰٓـَٔادَمُ أَنۢبِئْهُم بِأَسْمَآئِهِمْ ۖ فَلَمَّآ أَنۢبَأَهُم بِأَسْمَآئِهِمْ قَالَ أَلَمْ أَقُل لَّكُمْ إِنِّىٓ أَعْلَمُ غَيْبَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَأَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا كُنتُمْ تَكْتُمُونَ“(Dia) berfirman: "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini". Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: "Bukankah sudah Ku-katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?"” (QS. Al-Baqarah: 33)
Dia seolah berkata, “Aku bilang juga apa! Kalian selalu saja bicara tentang keburukannya padahal tentu kalian pun tahu bahwa ia punya kebaikan seperti yang hari ini kalian saksikan! Tidak ingatkah kalian bahwa Aku tahu (hikmah) yang tersembunyi di balik segala apapun yang Aku ciptakan dan Aku jadikan?”
Setelah kekalahan mereka, tentu tidak ada alasan bagi para malaikat dan penghuni kerajaan langit lainnya untuk tidak menundukkan kepala di hadapan manusia. Maka para malaikat itu pun tunduk. Mereka menuruti kehendak Allah, melayani kepentingan manusia. Mereka mengatur dan mengantarkan rejeki manusia, mencatat amal-amal mereka, menjaga mereka, menanyai mereka dalam kubur. Tetapi itu tidak berarti mereka telah benar-benar mencampakkan pandangan buruk mereka tentang manusia. Sebagaimana guru mereka yang memandang rendah seceruk lumpur berbentuk ini, malaikat masih merasa bahwa manusia sebagai sumber kekacauan. Yang membuat mereka berbeda hanyalah bahwa malaikat tidak nyata-nyata menentang perintah Allah untuk tunduk.
Mereka menahan diri dari mengatakan apa yang mereka sembunyikan hingga manusia mulai memenuhi bumi dengan kekacauan-kekacauan, persis seperti yang mereka perkirakan. Ketika kemaksiatan dan kerusakan tampak nyata di muka bumi, menghadaplah beberapa malaikat lagi kepada Allah, mengadukan ketidakbecusan manusia dalam pandangan mereka.
Menghadapi makhluk yang merasa suci itu, Allah pun akhirnya mengeluarkan dekritnya. Allah menyuruh malaikat memilih perwakilan terbaik mereka untuk melihat apakah mereka dapat melakukannya lebih baik dari manusia. Siapapun yang tidak 100% yakin tentu akan gemetar saat diminta membuktikan diri seperti itu tetapi malaikat berhasil memutuskan siapa yang akan mewakili mereka. Harut dan Marut.
Harut dan Marut pun diberi Allah izin untuk menggunakan perangkat fisik sebagaimana yang digunakan manusia dan berjalan di muka bumi agar dapat dinilai apakah mereka memang dapat melakukan tugas lebih baik dari manusia seperti yang selama ini mereka kira. Pada beberapa saat pertama, mereka memang tampak melakukannya dengan baik. Tapi tidak butuh waktu lama hingga godaan terbesar siapapun yang menggunakan tubuh semacam ini menangkap mereka.
Akhir kisahnya, mereka jatuh ke dalam godaan itu. Mereka melakukan dosa-dosa yang sebelumnya mereka anggap terlalu kotor untuk dilakukan makhluk suci seperti mereka. Sejak kekalahan spektakuler mereka itulah, para malaikat benar-benar menerima kedudukan manusia di sisi Tuhan mereka. Sejak saat itulah mereka menaruh hormat yang luarbiasa kepada para manusia dan tidak lagi mencela manusia yang berdosa tetapi memohonkan ampunan Allah bagi mereka.
Kalau besok-besok, kalian kedapatan seorang malaikat tengah berbuat dosa, katakanlah padanya, “Ini tidak semudah kelihatannya bung.” Pertanyaannya, tahukah kamu kenapa Tuhan kita menyayangi dan melebihkan kita dari seluruh makhluk-Nya yang lain meskipun kita ini senantiasa berbuat dosa? Jawabannya mirip dengan alasanmu lebih mencintai anakmu yang satu ketimbang anakmu yang satu lagi di dalam hati. Tapi biarlah itu jadi pembahasan kita di lain hari.
