Kukira tidak banyak orang yang benar-benar tidak punya keinginan. Hampir setiap orang dikuasai oleh setidaknya sebuah keinginan. Orang yang ...

Keinginan Terbesar Kita Sebenarnya

apa keinginan terbesar manusia sebenarnya

Kukira tidak banyak orang yang benar-benar tidak punya keinginan. Hampir setiap orang dikuasai oleh setidaknya sebuah keinginan. Orang yang lapar ingin makan. Orang yang menganggur ingin punya pekerjaan atau bisnis.

Orang-orang yang berkeinginan itu membayangkan betapa indahnya kehidupan jika saja keinginan mereka itu terpenuhi. Tapi benarkah demikian? Pernahkah kamu perhatikan apa yang dilakukan seseorang ketika ia berhasil mencapai cita-cita dan angan-angannya? Kebanyakan dari mereka segera mencari dan menemukan sesuatu yang lain untuk diangan-angankan kemudian menenggelamkan diri mereka dalam angan-angan baru itu.

Orang yang telah berhasil memulai sebuah bisnis ingin arus kasnya lebih stabil. Orang yang telah sukses membangun sistem yang memberinya pendapatan pasif berangan-angan dapat menjangkau pasar yang lebih luas dan menguasai pasar. Pertanyaannya, akankah keinginan-keinginan itu suatu saat berakhir sehingga mereka layak diperjuangkan? Atau keinginan-keinginan itu memang tidak pernah berakhir sehingga jelaslah kebodohan orang yang bermimpi suatu hari kehidupan akan benar-benar seperti yang ia cita-citakan?

Aku bukan orang yang telah sukses mendapatkan keinginan-keinginanku dan mencapai akhir dari keinginan setiap manusia tapi aku telah menyaksikan mereka yang sungguh-sungguh telah mencapainya. Dengan melihat mereka yang telah mendapatkan setiap keinginannya itu, aku jadi mengetahui keinginan macam apa yang akan muncul dalam hati kalian segera setelah kalian mendapatkan apa yang hari ini kalian inginkan. Tidakkah kalian penasaran apa yang besok akan kalian pusingkan setelah segala hal yang memusingkan kalian hari ini tertunaikan?

PENGUASAAN ATAS HARTA

Keinginan pertama kita adalah memiliki atau menikmati benda-benda. Kita ingin makan es krim, naik wahana bermain, liburan ke tempat tertentu. Pokoknya segala sesuatu yang memuaskan mata, telinga, dan indera lainnya.

Karena memiliki benda-benda tertentu (seperti rumah dan kendaraan yang bagus) membutuhkan harta yang cukup banyak, secara sederhana dapat kita katakan bahwa pada tahap ini yang diinginkan manusia hanyalah menguasai sebanyak-banyaknya harta. Jika orang yang kita bicarakan takut kepada tuhan dan pemerintah, maka ia akan mengusahakan penguasaan terhadap peredaran harta itu dengan cara yang halal dan legal. Jika tidak, maka ia akan itu akan dilakukannya dengan segala macam cara.

Seperti yang telah kusebutkan, orang yang telah berhasil memulai sebuah bisnis ingin arus kasnya lebih stabil. Orang yang telah sukses membangun sistem yang memberinya pendapatan pasif berangan-angan dapat menjangkau pasar yang lebih luas. Orang yang setiap hari berperang dengan kompetitor bisnisnya bercita-cita dapat memenangkan kompetisi bisnis itu dan menjadi satu-satunya brand dan bisnis yang bertahan. Singkatnya, mula-mula kita ingin dapat mengatur kemana harta di dompet orang-orang mengalir.

Banyak dari kalian kukira tidak pernah memiliki sebuah bisnis yang menghasilkan, menyingkirkan setiap kompetitor dan memonopoli pasar. Tapi dapatkah kamu sedikit saja membayangkannya dan menebak apa yang kemudian menjadi keinginan orang yang telah berhasil menguasai harta orang-orang?

PENGUASAAN ATAS MANUSIA

Saat sedang menikmati makanan paling kamu sukai bersama orang-orang yang paling kamu cintai di suatu hari libur, salah seorang klien bisnismu menelpon. Dia bilang bahwa dia perlu membeli beberapa item darimu yang total nilainya lebih besar dari penjualan terbesarmu selama ini. Hanya saja dia tidak dapat menunggu hingga besok. Dia butuh item-item itu pada hari itu juga. Dengan sistem bisnis yang telah kamu bangun harusnya itu bukan masalah. Kamu hanya perlu menelpon kepala bagian produksi dan memintanya melakukan apa-apa yang diperlukan tetapi di situlah masalahnya.

Saat kamu menghubungi kepala bagian produksi, kamu mendapati bahwa ia sedang bermain dengan anak-anaknya dan berkata bahwa ia menolak untuk mengorbankan waktu bersama anak-anaknya di hari libur itu meskipun dibayar dua kali lipat. Kamu menawarkannya bayaran tiga kali lipat tapi jelas bahwa ia sama sekali tidak tertarik. “Aku telah menjual waktuku dari jam delapan pagi hingga jam lima sore setiap hari kerja dan aku juga tidak membiarkan suatu apapun mencederai hak perusahaan atas waktu yang telah kujual itu. Perusahaan telah mendapat dedikasi yang kujanjikan secara penuh dan aku pun telah mendapat bayaran yang perusahaan janjikan secara penuh. Tetapi bekerja di hari libur tidaklah termasuk apa-apa yang telah kujanjikan. Apakah bos mengira kebersamaanku dengan keluarga yang tidak dapat kujumpai di hari kerja layak ditukar dengan bayaran tiga kali lipat?”

Saat itulah kamu menyadari, meskipun kamu menguasai perekonomian kamu bukanlah raja yang menguasai dan memiliki manusia. Seorang tuan berhak memaksa budaknya melakukan apapun yang ia perintahkan. Seorang raja berhak menghukum siapapun yang menentang perintahnya. Tetapi atasan tidak memiliki hak semacam itu terhadap bawahannya. Kamu dan orang-orang yang kamu pekerjakan setara, sama-sama merdeka. Mereka menjual tenaga mereka untuk gaji darimu dan kamu menukar uang yang kamu miliki dengan pekerjaan yang dapat mereka lakukan, bukan dengan seluruh diri mereka. Mereka punya hak untuk menolak jika kamu tidak dapat menawarkan sesuatu yang cukup menarik untuk ditukar dengan apa yang kamu inginkan dari mereka.

Sejak itu, tahulah kamu bahwa penguasaan terhadap harta bukanlah apa-apa jika dibandingkan penguasaan terhadap manusia. Sejak itu, kamu pun ingin menjadi raja. Mungkin tidak seperti raja-raja yang tinggal di istana yang dijaga prajurit berbaju zirah. Jika kamu dapat mengubah bisnismu menjadi kerajaan bisnis maka itu pun cukup.

Kiranya hasrat untuk menguasai manusia itulah yang mengeluarkan para konglomerat dari kediaman mereka menuju medan rebutan jabatan pemerintahan. Singkatnya, setelah berhasil menguasai sektor ekonomi, nafsu akan mendorongmu untuk menguasai sektor politik. Kalaupun bukan politik dalam negeri, setidaknya politik di kota atau di kantormu.

Andai entah bagaimana kamu berhasil mengikatkan karyawanmu dalam suatu perbudakan modern, andai kamu tidak hanya dapat membeli apapun yang kamu mau dengan harta yang kamu miliki tetapi juga memiliki puluhan bahkan ratusan orang yang siap memenuhi apapun yang kamu perintahkan, apakah masih ada ruang bagi ketidakpuasan yang menuntut lebih dalam dirimu? Sayangnya jawabannya: iya, masih ada.

Meskipun kamu memiliki cukup harta untuk memakan apapun yang kamu mau dan mengujungi tempat yang kamu mau, meskipun kamu memiliki banyak orang yang siap melaksanakan apapun yang kamu perintahkan, kamu tetap mungkin untuk merasa tidak puas. Itu terjadi ketika dua orang bawahanmu - yang kamu kenal amat sigap melaksanakan perintah dan senantiasa bersikap hormat – kamu dapati tengah bercerita betapa bencinya mereka berjumpa denganmu. Sambil tetap bersembunyi, kamu lihat mereka menirukan gayamu memerintah (yang sejujurnya memang amat menjijikkan) lalu tertawa. Saat itulah kamu tahu bahwa kamu tidak sekadar ingin orang-orang patuh tapi ingin mereka melakukannya dengan tulus dan hormat.

Keinginanmu itu semakin kuat ketika kamu melihat seorang pemuka agama berjalan bersama murid-murid yang benar-benar menjaga adab di hadapan guru mereka. Kamu lihat bagaimana murid-murid pemuka agama itu berlomba-lomba melaksanakan perintah gurunya. Kamu lihat betapa khidmat murid-murid pemuka agama itu mencium tangan gurunya. Kamu lihat betapa tulus para murid itu mengorbankan diri demi kelangsungan hidup gurunya. Saat itulah kamu menyadari bahwa yang sesungguhnya ingin kamu kuasai bukanlah orang-orang tetapi hati mereka.
 

PENGUASAAN ATAS HATI MANUSIA

Suatu ketika, di dalam istananya di Bagdad, permaisuri Zubaidah mendengar gema yang amat dahsyat dari arah kota. Ia lantas bertanya kepada pembantunya suara apakah itu. Pembantunya menjawab bahwa itu adalah gema suara rakyat yang sambung menyambung mengucapkan “yarhamukallah” atas bersinnya Imam Abdullah bin Mubarak di majelisnya. Permaisuri pun menoleh kepada suaminya, Khalifah Harun Al-Rasyid, “Wahai suamiku, ulama itulah yang sebenarnya raja di hati orang-orang.

Ketika kamu telah mendapat kendali atas harta dan diri manusia, naiklah kamu menuju kasta tertinggi keinginan manusia, yakni penguasaan atas hati manusia. Kamu tidak hanya ingin dipatuhi tetapi juga dihormati secara tulus. Kamu tidak hanya ingin perintahmu dijalankan tapi ingin perintah itu dijalankan atas dasar cinta. Ya, kamu ingin dicintai melebihi segala sesuatu selainmu. Dan karena tingkatan tertinggi cinta adalah penghambaan, ya. Kamu ingin seluruh manusia mencintaimu sampai pada tingkatan menghamba kepadamu. Kamu ingin menjadi tuhan!

Inilah yang diinginkan nafsu sebenarnya. Inilah yang dikatakan nafsu secara halus sejak awal. Ketika nafsu berkata bahwa ia ingin merasa aman, yang sebenarnya ia inginkan adalah kendali. Ketika nafsu berkata bahwa ia ingin kendali, yang sebenarnya ia inginkan adalah menjadi tuhan.

Di sepanjang sejarah, kukira nafsu tidak pernah mendapat kesempatan mewujudkan kehendak busuknya itu secara sempurna kecuali dua kali. Pertama, pada diri Firaun yang mengaku tuhan tertinggi rakyat Mesir. Kedua, pada diri istri Al-Aziz yang menganggap tak seorang laki-laki pun seharusnya tahan untuk tidak jatuh hati pada dirinya.


Hanya setelah dijadikan tuhanlah, keinginan-keinginan manusia dapat berakhir. Sebelum itu, sekeras apapun kamu berusaha, akan selalu ada keinginan lain yang akan menggantikan keinginan yang telah kamu penuhi. Kamu pikir mengapa para penguasa dan elite global sekarang ini sibuk memprogram ulang cara hidup rakyatnya dengan buku-buku dan film-film?

Dalam tulisan ini, aku tidak akan bicara tentang apa yang sebaiknya kamu lakukan terhadap keinginan-keinginanmu itu. Kamu dapat mencari tahu tentang itu dalam nasehat orang bijak atau merumuskan strategi menghadapi keinginan-keinginan itu bagi dirimu sendiri. Yang terpenting sekarang kamu dapat melihat kemana keinginan-keinginanmu saat ini tengah membawamu. Pertama harta mereka, kedua diri mereka, dan ketiga hati mereka. Pertama ekonomi, kedua politik, ketiga agama atau budaya.

Semoga bermanfaat.