Jika dibolehkan, aku suka melihat kanal apa saja yang seseorang ikuti diikuti temanku di youtube. Aku sadar betul bahwa youtube hanya mereko...

Meruntuhkan Dinding Digital Pemecah Belah

perang karena perbedaan pandangan dan dinding digital

Jika dibolehkan, aku suka melihat kanal apa saja yang seseorang ikuti diikuti temanku di youtube. Aku sadar betul bahwa youtube hanya merekomendasikan video yang dianggapnya berkaitan dengan video yang telah kutonton. Jika aku punya ketertarikan lain atau ketertarikan baru, kukira kecil kemungkinan aku akan menemukan video tentang itu di beranda youtubeku. Dengan melihat sejumlah kanal yang sama sekali berbeda, aku mendapat kesempatan untuk menemukan kanal menarik yang mungkin terluput dariku atau kanal baru yang membuatku tertarik untuk memeriksa lebih jauh.

Karena algoritma memang dirancang untuk menyarankan video-video yang sesuai dengan video yang telah sukses menarik perhatianmu, kukira kita tidak mungkin menjangkau minat-minat baru selain dengan melakukan apa yang kulakukan di atas.

Aku mendorong setiap orang untuk berbagi kanal youtube sebagaimana aku mendorong orang-orang yang berbeda minat dan pandangan berdiskusi. Sebagaimana air harus terus mengalir agar tidak membusuk, kukira ide-ide juga harus terus benturkan dengan ide-ide lainnya agar salah satu dari mereka tidak membusuk karena idenya sendiri.

Coba bayangkan apa jadinya bila orang yang meyakini bagusnya partai A terus menerus ditunjuki mengapa partai A merupakan pilihan tepat sedangkan orang yang meyakini bagusnya partai B terus menerus ditunjuki betapa bodohnya orang yang memilih selain partai B? Polarisasi! Dan apabila polarisasi ini tidak diimbangi dengan keterbukaan untuk berdiskusi secara objektif, mungkinkah terbangun sikap saling memahami yang menjadi dasar bagi penerimaan dan perdamaian?

***

Orang yang mengurung diri dalam dinding digital yang dibangun platform-platform yang mungkin memang sedang menerapkan strategi divide and conquer kukira tidak jauh berbeda dengan orang yang hanya berdiam di kampungnya dan berkumpul dengan sesamanya. Wawasan mereka sempit dan mereka mudah sekali dihasut untuk membenci orang kampung lainnya. Itu karena mereka gagal menemukan persamaan di antara mereka meskipun persamaan itu sebenarnya terlalu jelas.

Kita tidak dapat benar-benar bertauhid jika kita masih memandang orang lain berbeda dari diri kita sendiri. Untuk menghilangkan ilusi perbedaan itulah, kita diperintahkan Allah untuk meruntuhkan dinding di antara kita. Dengan bertebaran di muka bumi, berangkat haji serta berjihad, keakuan seorang muslim dilebur ke dalam kebersamaan yang amat kuat.

Kebersamaan ini jauh lebih kuat dari yang dibangun oleh mereka yang sekadar silaturahmi kepada mereka yang terikat hubungan nikah atau darah. Jika setiap manusia sudah dipandang bahkan dianggap setiap orang merupakan dirinya sendiri, mungkinkah ada yang namanya kebencian atau perang?

Karena itu, mulailah berbagi dan mulailah berdiskusi!