Agama mengajarkan agar kita memandang saudara kita seperti memandang diri kita sendiri, seolah kita ini satu tubuh. Bagaimana kita dapat memahami ungkapan ini tanpa bantuan para penggiat sains mengenai tubuh manusia?
Para saintis itulah yang dapat menjelaskan bahwa organisme kompleks seperti manusia terdiri dari jutaan sel yang berbeda karakteristik dan tugasnya tetapi saling mendukung dan bergerak teratur sebagai satu kesatuan demi kemanfaatan bersama yang lebih besar. Itu berarti kita harus memaklumi perbedaan di antara kita dan bekerja menurut aturan seolah kita semua adalah satu tubuh demi mencapai tujuan-tujuan kita bersama.
Bagaimana kita akan berjalan jika tidak ada yang hendak menjadi kaki dan otot-ototnya? Bagaimana kita akan dapat berdiri tegak jika tidak ada yang menjadi sekeras tulang? Bagaimana kita dapat menyeimbangkan diri jika tidak ada yang menjadi kepala yang mengkoordinasikan semuanya?
Nabi menjelaskan bahwa seluruh anggota tubuh setiap hari mengingatkan lidah bahwa nasib mereka semua bergantung padanya. Aku yakin kita semua telah menyaksikan bagaimana banyak anggota tubuh harus terluka akibat tidak hati-hatinya lidah. Itu berarti kita juga tidak boleh lengah mengingatkan orang yang menjadi juru bicara kita. Bukankah kecelakaan yang menimpa seluruh tentara Mesir di Laut Merah disebabkan oleh kesalahan Fir’aun?
Para saintis itu juga yang dapat menjelaskan kepada kita bahwa darah harus terus mengalir dalam tubuh manusia untuk memastikan setiap sel di dalamnya mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan. Sebagaimana darah itu, uang yang merupakan alat tukar haruslah secara lancar terus beredar di tengah-tengah kita. Sebagaimana darah kehilangan manfaat jika alirannya tersendat, uang yang tertumpuk pun hanya akan menjadi busuk. Itulah sebabnya dibutuhkan jantung perekonomian yang sehat untuk memastikan setiap orang berkehidupan yang sehat. Bukankah Nabi telah bersabda,
“Dalam tubuh manusia terdapat segumpal darah apabila baik, maka baiklah seluruh tubuh. Apabila ia rusak maka rusaklah seluruh tubuh, ketahuilah bahwa ia adalah hati.”
Lalu perhatikan pula bagaimana kamu mengaku-aku telah bersedekah dan berbuat baik! Kamu tahu persis bahwa tanganmulah yang secara langsung menyerahkan sedekah itu ke tangan yang menerimanya tapi kamu tidak mengatakan bahwa tanganmu telah bersedekah! Kamu berkata bahwa kamulah yang telah bersedekah. Jika kamu tak mengizinkan satu sel pun dalam tubuhmu untuk mengaku-aku, mengapa berhenti sampai di situ? Mengapa kamu mengaku-aku telah berbuat baik padahal sejatinya kamu hanya seperti sebuah sel saja di hadapan tauhid.
Persis seperti tangan yang tidak akan mampu menyerahkan sedekah tanpa kaki yang mengantarkannya ke hadapan yang menerima, kamu pun tidak akan mampu melakukan kebaikan apapun tanpa adanya pihak lain yang memungkinkanmu melakukan kebaikan itu. Allah yang menggerakkan seluruh makhluk-Nya lah satu-satunya dzat yang layak menerima pujian atas segala kebaikan yang dilakukan.
Tangan mungkin mengambil dan menyerahkan harta sedekah, kaki mungkin melangkah ke hadapan yang menerima sedekah, mata mengarahkan tubuh ke arah harta dan penerima sedekah tetapi semua perbuatan yang kedengarannya berbeda-beda itu sebenarnya hanya satu perbuatan, bersedekah. Demikianlah esanya perbuatan Allah. Meskipun matamu berkata bahwa Nabi Musa datang ke hadapan Fir’aun dan Fir’aun menolak beriman kepada Nabi Musa, yang terjadi sebenarnya hanya satu. Allah hendak menunjukkan (kepada kita) tanda-Nya, kuasa-Nya.
Tentu saja, petunjuk yang telah diturunkan Allah tidak akan ada gunanya tanpa iman persis seperti tidak bergunanya cahaya tanpa adanya mata yang melihatnya.
