Pekerjaan menyusun batu lalu merekatkannya dengan semen untuk membentuk bangunan yang kokoh memiliki sejarah yang amat panjang dalam perjala...

Agama dalam Bahasa Pekerja Bangunan

agama dalam bahasa tukang dan pekerja bangunan - gambar ini dihasilkan gemini AI

Pekerjaan menyusun batu lalu merekatkannya dengan semen untuk membentuk bangunan yang kokoh memiliki sejarah yang amat panjang dalam perjalanan umat manusia. Karena itu tidaklah mengherankan apabila agama pun dijelaskan dalam bahasa yang dekat dengan keseharian para pekerja bangunan.

TIANG-TIANG BANGUNAN

Para ulama memperkenalkan istilah rukun iman dan rukun islam sebagai dasar-dasar agama. Kata rukun ini secara bahasa berarti pilar-pilar atau tiang-tiang. Itu sebabnya tiang di salah satu sudut ka’bah yang menghadap ke arah Yaman disebut rukun yamani. Dengan menyebut syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji sebagai rukun Islam, para ulama hendak memahamkan kita bahwa kelimanya merupakan tiang yang tanpanya tenda keislaman kita tidak akan dapat tegak dan dapat disebut tenda, bahwa tanpa kelima pilar itu, agama yang merupakan rumah tempat kita bernaung tidak akan dapat berdiri dengan kokoh.

Menyebut kelimanya sebagai rukun juga memberi isyarat bahwa kelimanya itu bukanlah apa-apa kecuali hanya pilar-pilar, tiang-tiang. Kita tentu tidak mau tinggal di sebuah rumah yang hanya berupa pondasi dan tiang-tiang tanpa dinding, tanpa atap. Rumah yang tidak berdinding tidak akan dapat menutupi aurat atau aib penghuninya. Rumah yang tidak beratap tidak akan menjadikan penghuninya terlindung dari sengatan panas dan derasnya hujan.

Sama seperti itu, Islam yang ditegakkan orang yang hanya menjaga syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji mungkin masih dapat disebut “rumah” bagi keyakinan dan cara hidup orang itu tetapi rumah semacam itu tidak akan melindunginya dari tersebarnya aib-aib dan serangan-serangan lintah yang menghisap darahnya. Untuk dapat menjadi tempat pulang yang tenang, rumah agama seseorang harus dilengkapi dengan dinding dan atap berupa penegakan hukum-hukum agama dan persaudaraan yang teguh. Bukankah Nabi telah bersabda,

الْمُؤْمِنَ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا
Orang mukmin dengan orang mukmin yang lain seperti sebuah bangunan, sebagian menguatkan sebagian yang lain.” (HR. Muslim no. 4684)

Hukum yang ditegakkan mungkin akan membuat kita sendiri kerepotan sama seperti dinding yang kadang membuat kita harus berjalan lebih jauh untuk bergerak dari satu ruangan ke ruangan lain tetapi hukum yang mendindingi itu pada akhirnya akan mencegah aib dan aurat kita sendiri terlihat dan tersebar.

Kita bahkan tidak merasa cukup dengan dinding dan atap. Kita mengisi ruang di rumah kita dengan hiasan-hiasan terbaik. Pertanyaannya, mengapa kita tidak mengisi rumah Islam kita dengan sebaik-baik akhlak sebagai hiasan? Mengapa kita merasa nyaman-nyaman saja dengan rumah yang bahkan tak melindungi kita dari musuh-musuh kita? Apakah kita sudah sama dengan dajjal yang hanya dapat melihat kenyataan dengan satu mata (lahiriah saja)?

BATU BATA TERAKHIR


عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضى الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ إِنَّ مَثَلِى وَمَثَلَ الأَنْبِيَاءِ مِنْ قَبْلِى كَمَثَلِ رَجُلٍ بَنَى بَيْتًا فَأَحْسَنَهُ وَأَجْمَلَهُ ، إِلاَّ مَوْضِعَ لَبِنَةٍ مِنْ زَاوِيَةٍ ، فَجَعَلَ النَّاسُ يَطُوفُونَ بِهِ وَيَعْجَبُونَ لَهُ ، وَيَقُولُونَ هَلاَّ وُضِعَتْ هَذِهِ اللَّبِنَةُ قَالَ فَأَنَا اللَّبِنَةُ ، وَأَنَا خَاتِمُ النَّبِيِّينَ
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Perumpamaan aku dengan Nabi sebelumku ialah seperti seorang lelaki yang membangun sebuah bangunan kemudian ia memperindah dan mempercantik bangunan tersebut kecuali satu tempat batu bata di salah satu sudutnya. Orang-orang ketika itu mengitarinya, mereka kagum dan berkata, ‘Amboi, (kalaulah saja) batu bata ini diletakkan, (tentulah bangunan ini akan sempurna)’ akulah batu bata itu dan aku adalah penutup para nabi.’” (HR. Bukhari, no. 3535 dan Muslim, no. 2286)

Allahu akbar! Allahumma shalli ala sayyidina Muhammad wa ala alihi. Betapa mengagumkan ketawadhuan junjungan kita! Beliau berkata bahwa (rumah) agama ini telah ditegakkan dengan amat mengagumkan oleh para Nabi dan Rasul yang mendahului beliau sedangkan beliau sendiri hanya memberi satu kontribusi yang nyaris tak mengurangi kesempurnaan rumah (agama) ini. Padahal? Padahal Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Bagaimana kami menebus apa yang telah kaukorbankan untuk tegaknya rumah ini, ya Rasulullah? Jika bukan karena engkau yang telah menutup lubang-lubang di rumah ini, tentulah kami telah binasa karena ular dan binatang berbahaya lain di dalam rumah tempat kami berlindung ini.

Tidakkah kalian lihat bagaimana pengikut agama lain binasa di dalam rumah mereka sendiri akibat “ular-ular” yang masuk lewat celah-celah dinding agama mereka?

***

Karena itu, marilah kita jadikan agama yang merupakan rumah tempat kita bernaung, berlindung dan pulang ini tempat yang nyaman! Mari kita tutupi aib saudara kita sebagaimana dinding kamar yang menjaga kehormatan kita! Mari kita hiasi rumah kita dengan akhlak yang indah sehingga setiap orang yang singgah betah berlama-lama di dalamnya.