“Uang bukan segalanya tapi segalanya tidak bisa didapat tanpa uang,” begitulah kata mereka. Kutipan itu dan banyak kutipan lain yang senada ...

Belajar Bahagia dari Nabi Adam

belajar bahagia dari nabi adam sebelum turun dari surga

“Uang bukan segalanya tapi segalanya tidak bisa didapat tanpa uang,” begitulah kata mereka. Kutipan itu dan banyak kutipan lain yang senada dengan itu sebenarnya menyesatkan. Meskipun sekilas tampak ada benarnya, kutipan semacam itu memuat suatu keyakinan yang amat jauh dari kebenaran. Keyakinan sesat itu adalah, “kebahagiaan manusia terletak dalam harta benda atau materi.”

Manusia bukan semata-mata makhluk yang tersusun atas materi karena itu kebahagiaannya juga bukan merupakan sesuatu yang bersifat materi. Jika selama ini begitulah kelihatannya, itu karena di balik semua ini terdapat penipu yang sangat ahli membuat kepalsuan seolah sesuatu yang sejati. Lalu, dimana letak kebahagiaan seorang manusia sebenarnya? Kita akan belajar mengenai hal itu dari bapak kita semua. Nabi Adam alaihis salam.

Meskipun kamu sudah makan makanan paling enak di dunia, tidur di kamar paling mewah di dunia, pergi ke tempat paling eksotis di dunia dan masuk tempat hiburan paling asik di dunia, semua pengalamanmu itu tentu tidak dapat dibandingkan dengan pengalaman bapak kita, Nabi Adam alaihissalam. Beliau makan makanan surga yang pisangnya saja punya tujuh puluh rasa. Saking nikmatnya, seorang yang duduk di sebuah kebun pisang di surga bisa terus duduk dan menikmati tandan demi tandan pisang tanpa kenyang tanpa bosan dan tanpa sadar bahwa kulit pisang yang dimakannya telah menggunung di belakangnya.

Kamar-kamar dengan dinding dari kaca temper kedap suara yang kamu lihat di rumah-rumah mewah hanyalah tiruan dari kamar di salah satu rumah di antara rumah-rumah di surga. Sedangkan Nabi Adam di sebuah rumah yang benar-benar berada di surga? Apakah kamu mau berkata pengalamanmu dengan barang tiruan lebih baik dari pengalaman beliau dengan yang asli?

Kukira telah jelas, tidak ada di antara kita yang dapat mengalahkan pengalaman Nabi Adam dalam soal pencapaian materi. Tapi apa kata beliau soal semua kemewahan itu? Apakah semua kemewahan itu menjadikan beliau bahagia? Tidak! Meskipun bergelimang kenikmatan surga, bapak kita tidak bahagia. Beliau kesepian.

Baru setelah Allah memberikan beliau teman, segala kenikmatan surga itu terasa nikmat. Dari itu tahulah kita bahwa kebahagiaan kita terletak pada hubungan (yang terjalin baik). Dari itu tahulah kita mengapa banyak dari orang yang kita kenal menghabiskan malamnya mencari teman ngobrol meskipun telah lelah bekerja demi gaji dua atau tiga digit seharian.

Sampai pada titik ini, kamu mungkin berkata, “OK! Harta benda tak berarti tanpa teman,” tapi itu pun sebenarnya belum cukup. Jika kamu masih mengira hidup tanpa harta benda lebih buruk daripada hidup tanpa teman, kamu harus lanjutkan membaca.

Ketika Nabi Adam melihat temannya termakan oleh bujuk rayu iblis dan melanggar batasan yang ditetapkan Sang Pemilik Surga, beliau sebenarnya sadar sesadar-sadarnya bahwa temannya itu bisa dikeluarkan dari surga akibat perbuatannya itu dan dirinya sendiri pun berpeluang untuk dikeluarkan juga jika mengikuti jejak temannya itu. Tetapi tahukah kamu apa yang beliau lakukan setelahnya?

Beliau tidak membiarkan temannya itu melakukan pelanggaran itu sendirian dan menghadapi akibatnya sendirian. Mengapa? Karena Nabi Adam tidak ingin kembali sendiri di tengah segala fasilitas surga. Karena terpisah dari satu-satunya teman yang kamu miliki jauh lebih menyakitkan daripada berpisah dengan segala kenikmatan materi. Dengan keyakinan itu, Nabi Adam pun mengambil bagiannya dalam pelanggaran itu sekadarnya, hanya untuk memastikan mereka tetap bersama, dalam nikmat kehidupan surga atau kerasnya kehidupan di bawah sana.

***

Karena itu, sepenting apapun jabatanmu di perusahaan, janganlah sesekali kamu mengabaikan work-life balance. Jalinlah hubungan yang baik dengan atasanmu di kantor, rekan kerjamu, tetanggamu di kontrakan, keluargamu di rantau, orang tuamu di kampung halaman. Jalinlah juga hubungan baik dengan Tuhan yang menciptakan dan memberimu semua yang membuatmu semangat menjalani hari-hari sebab tidak akan bahagia siapapun yang tidak memperbaiki hubungannya.