Antara Kedokteran dan Matematika

Minggu, 18 Agustus 2013

advertisement
aku mengambang tidak jelas tanpa tujuan - habib think

Ini ceritaku, dan bagaimana aku bisa ada disini:


SETAHUN LALU
Hari itu aku adalah hari pertama aku masuk kuliah. Hari dimana pertama kalinya aku menggunakan gelar mahasiswa kedokteran. Ayahku bangga padaku, Ibuku bangga padaku, semua orang senang pernah kenal denganku dan menceritakan kelebihan-kelebihanku. Ya, seperti aku memang mampu lulus peringkat pertama di jurusan mana saja yang kalian pilih. Tapi itu bukan pilihanku.

Aku benci kedokteran. Guruku di SMA selalu bilang kedokteran itu identik dengan menghapal. Aku benci menghapal. Sejak awal aku lebih menyukai menghitung dan memahami daripada menghapal. Dan sayangnya orang tuaku tidak mengetahui itu.

Aku suka matematika, aku sudah terbiasa ikut olimpiade dan mengadu kecepatan saat cerdas cermat. Aku suka rasanya menang dalam adu cepat itu. Aku tak terkalahkan. Tapi aku harus kehilangan semua itu. Aku masuk kedokteran.


Bukannya aku tak memilih jurusan lain. Aku ikut ujian masuk STAN juga. Aku ikut SNMPTN. Tapi orang tuaku menyuruhku untuk ikut UMB juga. Pada akhirnya aku harus lulus di kedokteran yang sangat kubenci. Padahal aku tidak menjawab satupun soal biologi waktu ujian, aku hanya menjawab Fisika dan matematikanya. Memang dasar sial.

Tak hanya itu, aku juga sempat lulus tanpa testing di jurusan matematika UNIMED sebagai hadiah dari rektor saat aku memenangkan salah satu olimpiade yang kuikuti tapi orang tuaku menyuruhku membuangnya. Mereka bilang, terlalu rendah kalau kita mengambil hadiah itu saat kita bisa dapat lebih. Dan yang lebih bikin sakit hati lagi, mereka bilang, Matematika itu ilmu murni, bukan ilmu terapan. Kita tak butuh ilmu seperti itu lagi sekarang, kita butuh ilmu terapan. Ilmu seperti itu tak ada aplikasinya.” BUKANKAH KITA BEBAS MEMPELAJARI APA YANG KITA SENANGI?

Mungkin salahku juga kupikir, mungkin salahku yang terlalu bersemangat, mungkin salahku yang terlalu yakin penemuanku bisa sama terkenalnya dengan penemuan Einstein, mungkin mimpiku terlalu berlebihan untuk jadi matematikawan besar setara Newton. Atau mungkin salah guruku yang membawaku menemui rektor yang mengatakan. “Kelak ia akan jadi konseptor matematika” saat aku presentasikan penemuanku di hadapannya. Entahlah, aku tak suka menyalahkan orang.


Tapi disinilah aku sekarang, duduk mengikuti kegiatan OSPEK Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan sesuai keinginan semua orang. Siangnya aku menerima kabar bahwa ternyata aku lulus juga SNMPTN di Teknologi Informatika USU, tapi untuk apa? Apa mungkin aku pindah setelah 62 juta uang pembangunan keluar?

Dua minggu berlalu, aku ditakut-takuti dosenku bahwa dunia kedokteran tidak akan menyenangkan. Rasanya aku ingin keluar saja tapi aku mulai bisa menerima dan ikhlaskan niat, bahwa aku dikirim kesini untuk belajar. Aku dikirim orang tuaku untuk jadi dokter, baiklah, akan kulakukan dengan sepenuh hati.


Satu semester berlalu, aku dapat IP 3,6 itu adalah yang tertinggi ketiga di angkatanku. Aku sudah buktikan, aku bisa. Tak ada yang tak bisa kutaklukkan. Demi orang tua.


HARI INI
Aku sedang mengantri untuk membayar uang kuliah semester pertama. Orang tuaku bangkrut. Mereka tak sanggup membayar uang sekolah kedokteranku lagi. Hutang mereka disana sini. Aku kembali ke medan. BERKULIAH DI JURUSAN MATEMATIKA. Tuhan menyelamatkanku. Kuharap orang tua juga mendapat pelajarannya. Bahwa anak bukanlah boneka yang bisa mereka arahkan sesuka mereka.

Aku mengantri di terik matahari tapi aku senang. Hatiku berkata, “Matematika, aku pulang.” Aku kembali berkuliah di jurusan matematika. Aku belajar suatu pelajaran berharga, Ikhlas akan dibalas dengan kebaikan yang tak dikira-kira

Saat itu muncul teman lamaku di SMA. “Bib bukannya kamu sekarang kuliah di STAN ya?” “Hah? Siapa bilang?” “Temenku ada juga yang masuk STAN, katanya nama kamu juga ada di pengumuman kelulusan.” Aku hanya bilang, “hehe,”

Aku mampu, aku bisa, aku bisa jadi apa saja. Berikan aku kesempatan dan aku akan buktikan pada kalian. Ini ceritaku, ini sejarahku, dan akan terus kutulis, pelajarilah!


* Saat ini penulis sedang menyusun skripsi di Jurusan Pendidikan Matematika dan mencari beasiswa agar bisa kuliah S2 di Jerman.
 

Tulisan Populer

BERLANGGANAN VIA EMAIL

Selalu ketinggalan tulisan terbaruku? Tinggalkan saja alamat emailmu! Jadi aku bisa memberitahumu tiap kali sebuah tulisan baru terbit.