Aku Gak Ngerti Politik

Sabtu, 04 Oktober 2014

advertisement
habibie salah satu politikus akademisi dan presiden paling amanah yang pernah indonesia miliki

Sebenarnya topik politik bukanlah salah satu dari banyak kegemaranku tapi aku tidak berlepas tangan karena aku yakin kita butuh mengerti. Sayangnya masih ada orang-orang di luar sana yang sama sekali belum melek politik. Jangan-jangan kamu, pembaca setia blog ini tidak mengerti politik juga?


Tulisan ini kubuat untuk ibu-ibu, para remaja, dan mahasiswa yang belum jadi mahasiswa seutuhnya karena sama sekali tidak tahu-menahu dalam urusan politik dalam negeri. Ini akan jadi seperti pelajaran pertama yang mengantarkan kalian masuk ke dunia para politikus.


KITA HARUS MEMBUAT SEBUAH PERWAKILAN
Itulah alasan mendasar kenapa kita harus mengerti politik. Dalam hidup bernegara, kita tinggal bersama banyak orang dan saling membutuhkan satu sama lain. Kita butuh petani bawang, distributor bawang, pedagang bawang, dan toko online bawang untuk bisa membawa satu siung bawang ke dalam sup di piring kita. Dan itu harus dilakukan dengan satu organisasi yang sangat baik.

Kita bukan Pak Marhaen. Yang menanam padinya sendiri, memakan hasil buminya sendiri, menjual hasil buminya sendiri dan yang benar-benar merdeka karena tidak bekerja pada siapapun. Tidak seperti Pak Marhaen yang berdiri di atas kakinya sendiri, kita butuh banyak orang untuk tetap bertahan hidup dan mendapatkan cukup banyak untuk menikmatinya.

Sayangnya tidak setiap urusan mudah dilakukan.

Bisakah kalian bayangkan jika setiap rumah harus membeli satu set alat penguji kadar racun kimiawi dalam makanan dan belajar menggunakannya? Bisakah kalian bayangkan jika seribu kepala keluarga harus patungan untuk menyewa sebuah kapal kontainer hanya gara-gara anak mereka minta coklat olahan Belgia yang enak? Bisakah kalian bayangkan jika kita harus mengamankan aset dan kekayaan warisan atok moyang kita sendirian, sanggupkah kalian?

Tentu saja tidak! Itu sebabnya kalian memilih beberapa orang sebagai perwakilan kalian yang akan menjadi hidung kalian untuk mencium formalin di laboratoriumnya, menjadi mata kalian untuk mengawasi emas Indonesia bagian mana yang sedang dicuri, menjadi tangan kalian yang hanya menandatangani kesepakatan internasional yang cukup menguntungkan untuk kita semua dan menjadi kaki kalian yang akan membawakan coklat-coklat yang enak masuk ke dalam negeri.


OLEH KARENA ITU PILIHLAH YANG MEWAKILI
Nah! Karena sedemikian pentingnya hidung seorang utusan rakyat tadi, seharusnya kalian membekali diri kalian dengan ilmu yang cukup untuk mengenali orang-orang mana yang bisa dipercaya untuk jadi pemimpin dan orang-orang mana yang pandai menipu dan berhias diri.

Bayangkan jika kalian memilih orang yang salah untuk menjadi hidung kalian. Katakanlah sebenarnya dia ini bukan orang yang jahat tapi sayangnya bodoh. Kalian tidak tahu ternyata dia tidak pandai mengenali makanan mana yang bagus untuk lambung dan mana yang tidak. Kalian tidak tahu ternyata dia manggut-manggut aja, waktu produsen mie instan menipunya dengan beberapa trik supaya mie buatan mereka itu kelihatannya menyehatkan waktu diuji coba. Bayangkan apa yang terjadi jika hidung yang orang ini gunakan untuk mencium ketidakberesan rusak? Apa yang akan terjadi pada perut istri dan anak kita, saat kita membelikan mereka sesuatu yang berlabel sehat tapi ternyata tidak sebagaimana yang seharusnya? Coba pikir sendiri.

Bahaya yang ditimbulkan orang bodoh yang barusan kalian pilih itu belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan bahaya yang ditimbulkan orang jahat yang berhasil menipu kalian dengan jas dan kopiah. Jika merekalah yang duduk di posisi hidung dan tangan kalian, pastilah dengan mudah mereka akan memberi izin edar, label sehat bahkan label halal saat diberi sejumlah harta atau wanita. Bayangkan apa jadinya jika kita mempercayakan keselamatan perut kita pada satu orang yang tidak peduli apa yang terjadi dengan perut kita?

Dan kalian boleh pikirkan sendiri wakil macam apa yang mau menandatangani perjanjian yang membuat pihak asing boleh menggali emas kita, sementara kita hanya menikmati 1% hasilnya sebagai komisi. Kira-kira mereka masuk tipe wakil yang mana ya? Orang yang tidak sengaja merugikan kita karena kebodohannya atau memang sengaja menjual harta kita karena sifat jahatnya?


SAYANGNYA CUKUP BANYAK YANG TIDAK MELEK POLITIK
Setelah semua yang kupaparkan di atas. Sayangnya masih ada orang-orang yang tidak melek politik dan hobinya golput. Aku tidak memaksa kalian untuk menonton berita korupsi dan politik yang membosankan setiap harinya. Aku hanya minta kalian peduli.

Sebenarnya aku tidak peduli apakah kalian pintar atau tidak dalam masalah politik ini, tapi sayangnya keselamatan perutku dalam genggaman wakilku (pemerintah) dan kalian juga termasuk orang yang bertanggung jawab atas terpilihnya mereka. Aku sudah menjelaskan kehalalan golput ini dalam tulisan tersendiri Kalau Aku Golput Kau Mau Bilang Apa? [link] tapi sikap acuh tidak acuh kalian akan membuat negara ini semakin hancur. Aku tak mau ikut-ikutan hancur di dalamnya.

Itu sebabnya dengan ini aku memaksa kalian untuk mengerti perpolitikan secepatnya! Perutku terancam!


KITA BUKAN NEGARA ISLAM! KITA NEGARA DEMOKRASI
Kalian boleh-boleh saja tidak melek politik jika kita menggunakan sistem politik Islam. Tapi sayangnya kita bukan negara Islam yang hanya memberikan kekuasaan pada mereka yang dianggap paling zuhud dan pantas untuk menggenggam nasib umat. Negara kita ini penganut demokrasi dimana demokrasi adalah sebuah sistem yang memberikan hak penuh untuk rakyatnya untuk memilih sendiri siapa yang mewakilinya. Tidak peduli apakah rakyat itu tidak cukup pintar untuk memilih orang mana yang mewakilinya, tidak peduli apakah rakyat itu cukup bodoh untuk ditipu media, tidak peduli apakah rakyat itu hanya memilih demi kepentingan sesaat duniawi dan golongan, asalkan rakyat itu punya KTP maka dia berhak memilih.

Jadi harusnya tidak ada alasan bagi kalian untuk tidak mengerti politik!

Kalian mau tahu contoh paling dekat, tentang bencana apa yang mungkin terjadi jika kalian tidak cukup pintar untuk memilih? Jika kalian sedang di rumah atau di kelas, coba lihat ke atas sekarang! Ada apa? Ada lampu kan. Kalau kalian tinggal di Kota Medan juga sepertiku pasti kalian langsung mengerti.

Orang yang harusnya bekerja di PLN adalah orang yang kita anggap cukup mampu (tidak bodoh) dan dapat dipercaya (tidak jahat). Harusnya mereka mampu memperbaiki jika ada mesin yang rusak dan merencanakan anggaran jika memang perlu biaya. Tapi lihatlah apa yang terjadi, kita terus menerus berada dalam krisis energi di salah satu negeri dengan cadangan bahan bakar terbesar di dunia. Kira-kira termasuk jenis wakil mana mereka ini? Bodoh karena tidak pandai memperbaikinya atau jahat karena mengkorupsi anggaran perawatan mesinnya? Aku tak tahu! Yang aku tahu kita cukup bodoh karena memilih orang-orang ini untuk jadi wakil yang mengurusi energi dan listrik kita.


JADILAH CUKUP PINTAR UNTUK MENGENALI
Aku hanya berpesan jadilah cukup pintar untuk mengenali calon wakil kalian (dan aku). Pilihlah orang yang tidak akan meracuni pasokan air kalian hanya demi sebuah atau dua buah mobil mewah.

Pilihlah orang yang berani berkata, “Kalau ente mau sogok saya, satu trilyun mah kurang! Di Indonesia ini kami ada 250 juta jiwa. Kalau satu trilyun ini dibagi rata ke tiap orang, masing-masing cuma bakal dapat 4000 perak! Lha 4000 perak dapat apa? Bakso aja gak dapet! Ente mau menghina saya? Saya ini presiden lho!” lalu beliau minum sebentar dan lanjut lagi, “Ente pikir saya mau menjual emas orang-orang yang udah milih saya demi sedikit harta dari kalian? Tidak lah! Saya masih punya nurani bukan kayak kapitalis licik macam kalian! Kalau ente berani nyogok saya berarti ente berani nyogok Indonesia. Besok-besok kalau mau nyogok lagi, pikir dulu dong anggarannya. Nyogok cuma 4000 perak kok berani-beraninya minta emas di tanah kita. Keamanan! Tolong seret dua botak berjas ini keluar!”

(Hiks hiks, terharu sekali kalau ada presiden macam di atas itu - jadi teringat sama Pak Habibie sayanya)

Dan jangan juga tertipu media! Dalam demokrasi sebenarnya bukan rakyatlah yang paling bebas menentukan tapi pers lah yang paling merdeka. Karena mereka ini yang membentuk opini rakyat yang nantinya akan memilih. Sebenarnya aku yang paling pesimis kalian bisa kebal dan tidak tertipu oleh pers karena aku tahu betul cara-cara pengendalian pikiran yang mereka lakukan dan bagaimana teknik-tekniknya. Tapi aku harap kalian terus belajar dan tidak mudah ditipu TV jika kalian termasuk orang yang sulit mematikan dan menghancurkannya.

Jika memang akhirnya ternyata kalian menyadari tidak cukup pintar untuk mengenali mana calon wakil yang benar-benar bijaksana dan tidak lagi peduli urusan duniawi dan mana wakil yang keharuman namanya sudah disetting oleh media TV, aku masih punya beberapa tips. Pilihlah satu orang bijak atau ulama atau guru ngaji di kampung kalian, dengarkanlah suaranya. Karena dia itu lebih berilmu dan lebih dekat dengan sumber kebenaran. Siapapun yang dipilihnya ikuti saja lah. Kalau pun salah pilih kali ini, setidaknya kita tidak dapat dosa karena sudah menyerahkan urusan pada yang ahlinya dan bukannya sok pintar sendiri untuk melakukan yang bukan keahlian kita.


Akhir kata, aku mohon maaf jika tulisanku yang satu ini agak kepanjangan tapi aku harap kalian menikmatinya. Tidak bosan aku ingatkan supaya kalian yang membaca meninggalkan satu atau dua komentar supaya kelak jejakmu itu bisa diingat sepuluh atau dua puluh tahun lagi. Terima kasih, salam politik!
 

Tulisan Populer

BERLANGGANAN VIA EMAIL

Selalu ketinggalan tulisan terbaruku? Tinggalkan saja alamat emailmu! Jadi aku bisa memberitahumu tiap kali sebuah tulisan baru terbit.