Haruskah Perempuan Bekerja untuk Setara dengan Laki-Laki?

Kamis, 03 November 2016

advertisement
benarkah wanita harus berpendidikan dan bergaji lebih tinggi dari suami agar tidak diinjak-injak

Suatu hari ada seorang akhwat mengirim kepada saya, seperti ini: "Saya sebentar lagi lulus. Setelah ini berpikir untuk mempersiapkan diri menjadi ibu rumah tangga jika menikah. Namun orang tua saya  melarang, sebab mereka bilang jika istri tak berpenghasilan sendiri, nanti hidupnya bisa diinjak-injak suami. Jadi, bagaimana seharusnya?"


Saat membaca pertanyaan itu, saya membayangkan diri saya sebelum hijrah. Membayangkan percakapan yang pernah terjadi dengan teman-teman wanita saya, tentang kasus istri-istri yang"diinjak-injak", dan berkesimpulan wanita harus mandiri, termasuk mandiri secara finansial. Dan hal seperti ini menjadi salah satu alasan menunda pernikahan supaya bisa "bebas-merdeka", meraih karir, harta, dan mimpi-mimpi lainnya, daripada menyerahkan diri dalam ikatan pernikahan yang mengekang.

Setelah ngaji, saya baru ngerti, pemahaman seperti ini adalah paham feminisme yang berbahaya!

APA ITU FEMINISME

Wanita modern merasa hidupnya belum setara dengan pria, sebab setara yang dimaksud adalah pencapaian materi. Sesuai fitrahnya, tugas wanita mengurus rumah tangga, melahirkan dan mengurus anak-anak mereka. Jika diukur dengan standar materi, maka pekerjaan ini memang tak menghasilkan gaji. Sementara para lelaki pergi keluar rumah untuk bekerja, mereka menghasilkan gaji. Jika materi sebagai standarnya, maka tentu kaum pria dianggap pemenangnya.

Feminisme mengajak wanita berlomba-lomba agar setara dan sama kuat dalam materi, karir, dan hal-hal lain yang dilakukan oleh kaum pria, agar wanita tak lagi bergantung kepada pria. Agar wanita jangan mau kalah dan dilecehkan pria. Mereka bilang ini emansipasi (baca juga: emansipasi kebablasan)

Padahal sebenarnya wanita sedang digiring keluar dari kodratnya, melalaikan peran utamanya. Dulu di barat sana, feminisme ditolak sebab mengancam keutuhan institusi keluarga oleh sebagian manusia yang masih berpikir waras sesuai fitrah. Namun kini feminisme gencar digaungkan. Tak heran jika angka perceraian tinggi di sana. Belakangan ini feminisme juga masuk ke dalam benak muslimah-muslimah kita. Sungguh berbahaya, sebab ini agenda besar menghancurkan sendiri-sendiri rumah tangga kaum muslimin.

Pengaruh feminisme saat ini telah berhasil menanamkan anggapan bahwa seorang istri akan mudah "diinjak-injak" suami jika tak mandiri secara finansial. Perhatikan: hukum wanita bekerja dalam Islam adalah mubah/boleh, dengan syarat tak melalaikan kewajiban utamanya sebagai ibu dan pengurus rumah tangganya. 

Jika keseteraan ala feminisme yang menjadi motivasi bagi wanita untuk bekerja, maka yang terjadi justru sebaliknya. Ia akan meletakkan pekerjaan, karir, gaji di atas segalanya. Sebab ia menganggap harga dirinya bergantung pada hal tersebut. Maka bisa dipastikan, ia akan menomorduakan selainnya. Kewajibannya sebagai istri di rumah tangganya, pada suaminya, dan anak-anaknya, bukan lagi yang utama baginya.

Lebih parah lagi, jika motivasinya semakin kencang untuk "mengalahkan" pria. Jika pada suatu titik ia berhasil mencapai penghasilan lebih, maka ia merasa sudah bisa "membeli harga diri", sehingga bisa berlaku sebaliknya menginjak suami. Paham feminisme ini memang ngeri. Ujung-ujungnya: "Kalau gak mau diinjak, maka kamu harus menginjak." Rumah tangga macam apa yang diharapkan dari pemahaman bathil semacam ini?

Jadi, apakah bekerja dan mandiri secara finansial adalah solusi agar waminta tak dilecehkan dan diinjak-injak pria? Tentu kesetaraan ala feminisme bukanlah solusi, ia justru akan melahirkan problem baru yang berujung keretakan rumah tangga.

LANTAS BAGAIMANA JAWABAN PERTANYAN SI AKHWAT?

Berbeda dengan feminisme yang menjadikan pencapaian materi sebagai tolak ukut kemuliaan, dalam Islam tolak ukurnya adalah ridha Allah semata. Siapa yang mengejar ridha Allah melalui perbuatan-perbuatannya, maka ia akan meraih kemuliaan pahala dari Allah.

Wanita dan pria diciptakan Allah dengan fitrah yang berbeda, maka berbeda pula penugasan peran mereka. Wanita tidak mungkin dituntut untuk menjadi pria, pria tak mungkin dituntut untuk menjadi wanita. Sebab itu, Allah memberi jalur berbeda untuk meraih kemuliaan antara pria dengan wanita, sesuai fitrah masing-masing. Sekalipun berbeda aktivitas amalnya, namun keduanya sama-sama mampu meraih pahala dan juga ridha Allah. Boleh di cek di QS An-Nisa: 32

Seorang istri bila ia melaksanakan kewajiban utamanya di rumah tangga, maka ALlah ridha terhadapnya. Meskipun ia tak bergaji, ia berpahala dan mulia. Seorang suami bila ia melaksanakan kewajiban utamanya sebagai pencari nafkah bagi keluarganya, maka Allah ridha terhadapnya. Selama halal, besar kecil pendapatannya tak mengurangi kemuliaannya.

Jika standar ini yang diterapkan dalam menghargai peran suami dan istri, adakah lagi suami-istri akan saling injak-mengijak tersebab materi? :') Akhirnya, kepada akhwat itu saya katakan: solusinya, carilah suami yang memahami konsep kesetaraan dalam Islam, insyaallah peran sebagai ibu rumah tangga dipandangnya mulia sekalipun dirimu tak bergaji. Dirimu tak dimuliakan sebab materi, tak pula dijatuhkan dengan sebab materi. Maka carilah suami yang paham Islam, sebab ia mestilah paham hadits ini:

"Orang yang imannya paling sempurna diantara kaum mukminin adalah orang yang bagus akhlaknya terhadap istri-istrinya" (HR Tirmidzi)

Dan calon suami semacam ini tak akan ditemui, kecuali ia yang terbina dengan Islam.

Benefiko
Seorang visualis dakwah. Perempuan yang dikenal lewat sentuhan kreatifnya dalam buku "Udah Putusin Aja!" ini adalah seorang pecinta musik underground yang kini berubah menjadi full-time mother. Mottonya “Lebih baik preman tobat daripada mantan berjilbab”.
 

Tulisan Populer

BERLANGGANAN VIA EMAIL

Selalu ketinggalan tulisan terbaruku? Tinggalkan saja alamat emailmu! Jadi aku bisa memberitahumu tiap kali sebuah tulisan baru terbit.