Emansipasi Kebablasan

Rabu, 05 Juni 2013

advertisement
emansipasi kok kebablasan

Sejak Raden Ajeng Kartini menerbitkan bukunya, Habis Gelap Terbitlah Terang, seakan-akan muncul sebuah cahaya baru yang menerangi seantero nusantara dan mengangkat derajat kaum perempuan. Cahaya itu bernama Emansipasi Wanita yang istilahnya terus digaung-gaungkan hingga sekarang.

Tadinya perempuan itu dianggap rumahan, kerjanya hanya dapur-sumur-kasur. Ada yang menganggap seorang istri hanya sebagai pelengkap rumah dan aksesoris pria dewasa yang harus dimiliki agar tidak malu ketika teman-temannya bertanya. Beberapa sastrawan mengabadikan potret itu dalam karya-karya yang mengundang simpati. Sebenarnya para wanita ini tidak mengharap banyak, hanya perhatian dan kasih sayang dan dipergauli dengan baik tapi tak ada yang mengingatkan kaum lelaki waktu itu. Akibatnya terasa hingga sekarang.

Tapi semua berubah sejak buk Kartini menerbitkan bukunya. Jika tadinya perempuan tidak boleh bekerja, sekarang mereka bebas mengambil perannya dalam bidang mana saja. Kini mereka boleh ikut bekerja dan memperjuangkan apa yang seharusnya. Jika tadinya mereka berada dibawah, sekarang bisa dikatakan mereka setara dengan laki-laki. Jika tadinya mereka harus manggut-manggut sama laki-laki, sekarang mereka merasa berhak untuk angkat suara dan ambil tindakan.

Sungguh, semua ini hanya awal dari kutub kehancuran yang berlawanan. Mohon maaf kepada semua tokoh wanita dan para suspek feminis, bahwa aku menolak semua ide-ide penyetaraan gender ini. Sekali lagi mohon maaf. Tulisan ini pasti terdengar kejam karena yang menulisnya adalah seorang laki-laki (orang yang ingin kalian kejar derajatnya). Tapi cobalah dengarkan aku sejenak sebagaimana kalian minta untuk didengarkan.


Tidakkah kalian menyadari sudah terlalu banyak para wanita yang menggugat cerai suaminya sekarang ini? Banyak juga diantara mereka yang setiap hari keluar dari rumahnya, meninggalkan bayinya sendiri tak terurus atau paling banter menyewa baby sitter (agar menjadi ibu baru bagi anaknya). Mereka inilah orang-orang yang terlena oleh gagasan emansipasi yang menggiurkan (sekaligus memabukkan). Apa mentang-mentang derajatnya diangkat oleh buk kartini lantas laki-laki mau mereka langkahi?


Disini saya berbicara atas nama laki-laki yang tak ingin memanfaatkan semangat emansipasi, izinkanlah saya mengingatkan wanita tentang derajat mereka sebelum Cahaya itu datang. Maaf jika saya terdengar agak islami bagi anda yang non-muslim karena berikut ini saya akan menceritakan sejarah Nabi Muhammad.

Empat belas abad lalu, Nabi Muhammad SAW dengan syariat agama Islam telah mengangkat derajat kaum perempuan di seluruh dunia. Pernahkah kalian mendengar bahwa:
  • Ibu lebih dihormati tiga kali dibanding ayah.
  • Surga ada di bawah telapak kaki ibu.
  • Aturan pernikahan dibuat untuk menyelamatkan kaum wanita.

Bukankah semua itu telah mengangkat derajat kaum wanita? Apa? Kurang? Aku tahu, aku belum menyebutkan semuanya. Tapi jika kalian merasa apa yang telah agama Islam angkat untuk kalian itu kurang, kalian inilah orang yang disebut dikasi hati minta jantung. Oleh karena itu, mari kita lihat lebih jauh ke belakang, bagaimana keadaan perempuan sebelum itu.


Di Arab, sebelum Islam, jika seseorang tertarik atau selera dengan seorang wanita yang dilihatnya, maka ia tinggal datangi wanita itu, dibawanya kemudian dia melakukan apa saja yang ingin ia perbuat, dan itu sah secara sosial. Pada waktu itu wanita juga bebas digauli berapa laki-laki pun dalam waktu bersamaan. Kalian tidak dianggap memiliki hak atas diri kalian, kalian tercipta sebagai sumber kebahagiaan, kepuasaan dan kenikmatan. Tak jauh berbeda dengan harta dan binatang ternak.

Mari beralih ke Eropa (negeri yang kalian agung-agungkan pendapatnya sekarang). Mereka menganggap wanita tidak lebih dari sebuah makhluk mirip manusia yang kebetul bernyawa. Pemikir besar Eropa yang katanya cendikia itu bahkan pernah bertanya, apakah wanita juga memiliki nyawa seperti manusia pada umumnya atau jangan-jangan mereka lebih mirip binatang.

Keraguan mereka atas kemanusiaan para wanita itu terlihat pada penggunaan kata man dan woman. Man = manusia = laki-laki. Kalau sudah dibilang Man, itu artinya dia sudah pasti laki-laki karena laki-laki itu ya manusia, manusia itu ya laki-laki. Jika pada saat itu kata man diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia maka artinya adalah Manusia, karena kata laki-laki belum ditemukan. Kemudian mereka melihat seorang wanita dan bertanya, apakah makhluk ini juga manusia? Karena ia mirip manusia tapi tidak sama persis. Maka mereka harus memberinya nama lain. Para wanita itu tidak boleh diberi nama Man juga, karena mereka bukan manusia, mereka butuh nama baru. Disitulah muncul kata Woman.

Jadi manusia = laki-laki = Man, sementara untuk Woman digunakan untuk sesuatu yang lain yang bukan manusia, dan sekarang barulah mereka menyadari kemanusiaan perempuan sehingga muncul istilah laki-laki dan perempuan.

Biadab? Ya mereka memang begitu. Tapi alhamdulillah sejak mereka mengambil ilmu Islam yang masuk ke Eropa di abad pertengahan, mereka bisa Renaissance dan menjadi bangsa yang lebih beradab (bahkan lebih beradab dari kita sekarang ini).


Nah, dari kondisi seperti itulah Islam mengangkat derajat kaum wanita. Sehingga sekarang mereka mendapatkan hak untuk hidup, memiliki dirinya sendiri dan diberi kasih sayang lewat ikatan pernikahan yang menjamin hak-hak mereka. Bagaimana mungkin kalian masih kehausan?

Jangan mentang-mentang derajat kalian sudah diangkat lalu kalian bisa seenaknya melangkahi kami para laki-laki. Bagaimanapun laki-laki adalah pemimpin atas perempuan, setidaknya itulah yang diajarkan Islam. Akui mengakui mungkin kelakuan laki-laki beberapa dekade terakhir agak bodoh dan semena-mena, atau mungkin tidak sesuai dengan aturan emas yang dibuat Islam yang senantiasa menjamin hak-hak kalian, tapi jangan jadikan itu alasan untuk kalian menentang Islamnya.

Tuhan telah memberi kalian kelebihan di perasaan dan kasih sayang. Bagaimana pun tidak mungkin seorang laki-laki dibiarkan membesarkan anak sendirian karena mereka tidak punya apa yang kalian miliki (kami butuh kalian). Aku ingin katakan bahwa ada hal-hal yang lebih jago dilakukan wanita, seperti estetika dan seni sementara di sisi lain ada yang hal-hal yang lebih milik pria seperti rasio dan tanggung jawab. Tidaklah mungkin untuk membesarkan seorang anak tanpa kedua sifat orang tuanya ini. Tuhan menciptakan kita berpasangan, aku mengajarkan tanggung jawab, kau mengajarkan kasih sayang (baca buku Psikologi). Kita diciptakan berbeda tapi seimbang dan saling mengisi. Kau dengan semua sifat alamimu dan aku dengan semua sifat alamiku. Kita sempurna karena berbeda.

Nah, karena sudah tahu bahwa masing-masing punya perbedaan potensi ini, aku ingin memberitahu kalian bahwa Tuhan telah menetapkan bahwa kami adalah pemimpin diatas kalian.


Ada sifat-sifat yang sudah dianugerahkan Tuhan kepada laki-laki untuk memimpin sebagaimana kepada perempuan untuk menyayangi dan kepada pohon untuk berbuah dan kepada unta untuk jadi tunggangan. Masing-masing punya kecenderungan dan alasan penciptaannya sendiri-sendiri. Manusia tidak bisa menjadi tunggangan dan berbuah (bukan itu alasan mereka diciptakan). Maka janganlah karena saking emansipasinya, kalian, para perempuan ini juga memimpin. JANGANNN...

Itu tidak pada tempatnya, aku takut terjadi ketidakseimbangan nantinya. Bayangkan bagaimana hancurnya keadaan rumah, jika kalian meninggalkan suami satu minggu saja. Mungkin seperti itulah hancurnya dunia jika kami membiarkan kalian memimpin di dunia ini. Sebagaimana timbangan cabe digunakan untuk menimbang cabe dan timbangan emas digunakan untuk menimbang emas, seperti itu pulalah kita punya spesialisasi dalam penempatan.

Tuhan pasti punya alasan, kenapa hanya laki-laki yang boleh jadi hakim. Tuhan juga pasti punya alasan kenapa hanya laki-laki yang boleh menceraikan (mungkin kalau perempuan boleh menceraikan, ia akan menceraikan suaminya 50 kali sehari). Tuhan pasti punya alasan kenapa bagian anak laki-laki adalah Ashabah (sisa) dari harta warisan. Tuhan punya alasan untuk menciptakan kita berbeda.


“Oh, jadi kamu mau bilang laki-laki lebih hebat dari perempuan? Gitu ya bib?” Tiba-tiba temanku ngamuk. Tidak, tidak... tidak seperti itu. Aku hanya mau bilang bahwa kita punya spesialisasi berbeda. Aku juga mengakui bahwa aku tidak bisa sepenyayang kalian dengan anak-anak (kecuali anak kucing), aku akui bahwa aku tidak bisa konsesntrasi ke banyak hal seperti kalian, tidak bisa seperhatian, seteliti dan selembut kalian dalam melakukan apa saja. Dan masih banyak hal-hal lain yang lebih jago dilakukan wanita yang tidak bisa aku lakukan. Kami tidak lebih hebat dari kalian.

Kita hanya berbeda. Berbagai penelitian ilmiah juga telah membuktikan ini, kita tidak hanya beda secara kemampuan fisik tapi juga pikiran dan perasaan. Fokus mata kalian lebih lebar sementara kami lebih sempit dan jauh. Pikiran kalian berkerja multi-tasking sementara kami bekerja linier. Kalau kalian lebih menuhankan ilmu pengetahuan daripada agama, maka aku beritahu kalian bahwa sekarang ilmu pengetahuan juga telah membuktikan bahwa kita diciptakan berbeda. Maka dengan itu harusnya kita sadar bahwa tak ada yang perlu disama-samakan karena sejatinya kita berbeda dan punya bidang masing-masing.


Lagi pula, yang diangkat derajatnya oleh islam bukanlah si perempuan itu sendiri kurasa tapi sosok si Ibu. Kalau sampai si ibu kerja dari jam tujuh sampe jam lima, enam hari seminggu, sementara si bapak disuruh jadi bapak rumah tangga, dimana lagi tokoh ibu yang dihormati tiga kali dari ayahnya? Dan Kapan pula kesempatan si ayah menjadi imam bagi keluarganya kalau begitu?

Bukan berarti saya melarang, hanya saja lihat konteksnya, kalau sejauh yang saya bilang ini masih termasuk emansipasi kebablasan ya tinggalkan, kalau darurat yang silakan.


Coba lihat hadits Nabi tentang Istri dan ibu yang baik dan penjelasannya, itu baru perempuan yang boleh saya acung jempol. Terus ada yang nanya, “Lho bib? Jadi kapan gue bisa kerjanya?” Yaelah, jangan ditanya itu dulu, selesaikan dulu apa yang jadi kewajibanmu sayang, baru bicara kesenangan. Terus dia nanya lagi, “Katanya islam itu bebas, bib?” Aduh, kalau ente Islam karena Islam itu bebas cobalah belajar lagi. Ntar kalau datang agama baru yang ajarannya lebih bebas gimana? Apa situ mau murtad?

Ya mudah-mudah maksud saya bisa ditangkap, intinya 2 gender itu setara, dan masing-masing punya kelebihan dibidangnya masing-masing. Alangkah baiknya kalau tidak ada yang keberatan bagiannya diambil oleh yang lain, 
hmm?

ikuti saya di twitter HabibThink
atau kamu bisa baca artikel ini Kriteria Istri Idaman Setiap Laki-Laki jika kamu penasaran.
 

Tulisan Populer

BERLANGGANAN VIA EMAIL

Selalu ketinggalan tulisan terbaruku? Tinggalkan saja alamat emailmu! Jadi aku bisa memberitahumu tiap kali sebuah tulisan baru terbit.