Perlukah Alasan Untuk Berteman?

Jumat, 21 Juni 2013

advertisement
temanmu mempengaruhi akhlakmu
Berteman itu harus punya alasan
Sebelumnya aku peringatkan karena catatanku yang ini agak kejam. Catatan ini akan memaksamu memikirkan kembali apakah kamu pantas berteman dengan temanmu yang sekarang atau tidak. Kalau pantas ya silakan lanjut, kalau tidak ya sebaiknya diputuskan saja.

Banyak orang yang bilang bahwa memutuskan pertemanan adalah perbuatan yang sangat kejam seolah kita harus berteman dengan siapa saja padahal menurutku tentu saja kita harus punya alasan untuk berteman dengan seseorang.

Karena itu kita akan memulai tulisan ini dengan klasifikasi alasan orang untuk memulai sebuah pertemanan. Pembagian ini adalah menurutku saja, terserah kalian jika punya pendapat sendiri atau bagaimana. Menurutku ada lima alasan untuk beteman, mari kita bahas satu persatu:

  1. Terpaksa. Beberapa orang berteman karena terpaksa atau istilah kerennya insidental. Contohnya: dua orang yang ditempatkan di satu kantor, mereka memulai pertemanan oleh suatu isolasi keadaan yang tak bisa mereka ubah. Contoh lainnya adalah sepupu, anggaplah kamu punya sepupu menyebalkan yang selalu memanjatmu dan minta main kuda-kudaan kalau bertemu. Walaupun begitu, tetap saja kau harus berteman dan menjalin hubungan saudara yang baik dengannya, kau tidak punya pilihan tidak. Jadi kalian berteman.
  2. Harta. Ini sih klasik. Banyak orang yang ingin berteman karena kekayaan seseorang. Orang-orang seperti ini tidak bisa disalahkan soalnya aku juga baru tahu ternyata banyak juga orang di dunia ini yang tidak pandai mencari teman. Mereka memang sengaja menyelipkan uang mereka di mulut kantongnya untuk menarik perhatian orang lain. Mereka memang mengandalkan hartanya untuk mencari teman. Kalian bisa menjumpai orang-orang seperti ini di klub-klub orang kaya. Aku menyebut persahabatan mereka dengan persahabatan duit. 
  3. Menyenangkan. Kita suka yang muda, kita suka yang energik, kita suka yang lucu. Itu fitrah. Kita tertarik pada yang bagus-bagus. Walaupun orang itu tidak memberi kita keuntungan apa-apa setidaknya kita senang atau paling tidak terhibur ketika berada di dekatnya, baik itu karena lawakannya, karena ketampanan wajahnya, atau karena geraknya yang lincah. 
  4. Pintar dan Kuasa. Yang ini sebenernya gak jauh beda sama yang kedua atau ketiga. Motif orang yang suka berteman dengan orang pintar atau yang berkuasa ada dua. Yang pertama, bisa jadi dia suka mendengar pendapatnya dan ingin menjadi seperti orang pintar atau berkuasa itu juga. Atau yang kedua, dia ingin memanfaatkan si pintar atau si berkuasa untuk tujuan-tujuan tertentu. Beberapa orang suka dengan pejabat karena pengaruhnya luas, dia berharap bisa kecipratan.
  5. Relasi. Kebanyakan orang menganggap alasan inilah yang terbaik. Orang-orang disini suka mencari teman untuk memperbanyak relasi. Kata mereka menyambung silaturahmi itu bagus. Mereka juga bilang tidak perlu alasan untuk berteman. Mereka berteman dengan siapa saja.

Nah, kebanyakan orang pikir alasan terakhir adalah alasan terbaik, tapi alasan inilah yang paling tidak kusukai. Bisa kalian tebak kenapa?

Orang jenis ini memilih untuk berteman dengan siapa saja, tidak peduli apakah orang itu misin atau kaya, tidak peduli apakah ia ganteng atau jelek, tidak peduli apakah ia menyenangkan atau membosankan. Mereka tidak peduli, yang penting mereka temani semuanya. Sayangnya saking tidak pedulinya, mereka juga tidak peduli apakah temannya ini membawa manfaat baginya atau tidak.

Lho bib! Kok harus bawa manfaat sih. Emang kamu kalau berteman mau manfaatin orang melulu ya? Gak begitu! Sekarang aku tanya balik, emangnya kamu cari teman yang gak bermanfaat ya?

Nah disini dia letak kejamnya. Aku akan katakan, tentu saja kita harus mencari manfaat dalam pertemanan. Untuk apa beteman jika tidak ada manfaatnya? Kalian terlalu menganggap hubungan pertemanan terlalu sakral sehingga kalian menganggap mencari keuntungan dari seorang teman adalah salah. Padahal tidak. Justru yang aneh adalah orang yang tidak bisa mengambil apa-apa dari temannya.

Sadar atau tidak sadar sebenarnya kalian juga seperti itu kok. Kalian pasti punya maksud untuk dekat dengan seseorang atau tidak. Misalnya aku berteman dengan si Adi karena dia lucu (sebagai hiburan bagiku), aku juga berteman dengan Cakra karena dia kaya (dia bisa menraktirku makan siang setiap hari). Itu tidak apa-apa. Toh mereka semua ikhlas kok.

Tapi aku juga memberi mereka alasan untuk berteman denganku. Aku memberi mereka dukungan saat mereka susah. Aku juga membantu mereka mengerjakan PR saat mereka kesulitan. Pokoknya aku memantaskan diriku.

Aku sih tidak tahu apakah mereka ikhlas menolongku atau tidak. Mungkin saja si Chandra menraktirku hanya demi contekan tiap kali ujian. Kalau memang begitu, berarti pertemanan kami transaksional yang tidak sehat dan tidak ikhlas tapi yang jelas aku ikhlas menolong teman-temanku.


Sesungguhnya tidak apa-apa berteman untuk mencari manfaat. Ini tidak berarti kita memanfaatkannya. Justru aneh kalau kita berteman tapi gak ada manfaatnya. Tentu saja kita senang berteman dengan orang yang suka mengingatkan kita untuk sholat, suka mengajak ke mesjid, suka diskusi dan belajar. Bagus kan? Dia kan juga tentu harus mengambil manfaat dari kita. Tidak apa-apa kok.

Justru aneh kalau kita berteman dengan orang yang gak ada manfaatnya. Mengajak shalat gak pernah, ngajak kita supaya rajin belajar pun nggak, kerjanya cuma ngajak ke mall doang, ngabis-ngabis duit orang tua, iseng sana sini, pintar pun tidak , kalau ada makanan asik meminta aja tapi sendirinya pelit, diajak bicara gak nyambung, maunya membantah aja, pokoknya enggak banget lah. Waduhhh, gak ada untungnya berteman sama orang kayak gitu.


Makanya aku berniat menambah alasan keenam. Yaitu untuk kebaikan. Yaitu orang-orang yang berteman untuk saling mengajak kepada kebaikan. Ia memilih teman karena ia yakin bisa memberi kebaikan pada temannya itu dan bisa mendapat kebaikan karena berteman dengannya. Kalau pun tidak begitu setidaknya jangan sampai orang itu hanya membawa mudharat (keburukan) bagi kita.

Temanilah seseorang itu karena Allah menyenanginya dan jauhilah seseorang itu karena Allah tidak menyenanginya. Tidak ada salahnya kok meninggalkan teman jika ia memang hanya berdampak buruk bagi kita.
Kamu juga tidak perlu bersangka baik, “Jangan-jangan luarnya memang jelek, siapa yang tahu walaupun dia suka cakap kotor dan mabuk-mabukan, mungkin saja di rumah dia rajin shalat.” GAK PERLU!!! Itu hanya akan membuatnya sulit untuk berubah jadi lebih baik. Siapa bilang kita tak boleh menilai buku dari sampulnya?
Sekarang kamu boleh berlatih di depan cermin untuk bilang sama temanmu yang gak berguna itu, “Sejak berteman denganmu, aku jadi malas belajar, IPku turun, shalatku jadi tinggal-tinggal, ke mesjid gak pernah, hapalan ilang semua, dan sekarang aku jadi suka nonton film gak bener [link]. Memang sih kau sering nraktir aku, tiap minggu kau gaji aku 500 ribu, tapi kurasa itu gak cukup untuk nyogok malaikat malik nanti. Jadi sekarang kau mau gak berubah demi persahabatan kita. Karena kalau kau gak mau aku mau cari kawan lain aja atau istilah kerennya, mulai sekarang kita ESKETE!”


Siapa tahu kata-katamu menginspirasinya untuk berubah? Who knows?
 

Tulisan Populer

BERLANGGANAN VIA EMAIL

Selalu ketinggalan tulisan terbaruku? Tinggalkan saja alamat emailmu! Jadi aku bisa memberitahumu tiap kali sebuah tulisan baru terbit.