Qadariyah dan Jabariyah - Dua Yang Tertolak

Jumat, 14 Februari 2014

advertisement
work hard pray hard. Perbedaan orang beraliran qadariyah dengan jabariyah

Ada kekhawatiranku bahwa diantara kita yang ada disini, di bumi Indonesia kita tercinta ini termasuk kepada dua diantara golongan yang tertolak dalam Islam ini. Sehingga aku memutuskan untuk menulis dan menjelaskan tentang Qadariyah dan Jabariyah dalam satu tulisan tersendiri.


Apa kalian pernah berkata, “Yahhh, kalau jodoh pasti gak akan lari kemana.” Atau mungkin kalian berkata, “Nanti kalau Allah bilang udah waktunya kita kaya, pasti kita kaya. Atau bisa jadi kamu berkata, “Memang sih berdoa itu perlu, tapi zaman sekarang kalau gak ada duit mana bisa!” atau “Kalau gak sekolah gimana mau sukses?” atau “Untung ada aku, kalau tidak sudah jadi apa kau ini.” atau mungkin begini, “Yah hahaha, kalau cuma berdoa aja kapan suksesnya pak aji!”

Jika memang pernah, aku sarankan kalian bersyahadat ulang, karena kita akan mulai...


Akan kujelaskan bahwa ada dua aliran ekstrim yang tertolak dalam Islam. Yang pertama adalah aliran Qodariyah. Yaitu aliran yang memandang bahwa Allah hanya menciptakan kita, Dia tidak menciptakan apa yang kita perbuat. Jadi apapun yang terjadi dalam kehidupan kita, termasuk rezeki dan masa depan kita, ya kita sendiri yang tentukan. Allah tak punya peran di dalamnya.

Sementara di sisi sebaliknya ada aliran Jabariyah. Orang Jabariyah menganggap bahwa Allah telah menciptakan kita dan seluruh apa yang kita kerjakan, baik hari ini atau esok. Orang yang ditakdirkan kaya ya kaya, miskin ya miskin. Kita tak punya peran. Ibarat tokoh-tokoh dalam novel atau film bagi mereka kita ini cuma aktor, Allah sudah menulis skenario untuk kita.

Persamaan kedua aliran ini adalah, mereka berdua sama-sama tertolak dalam Islam.

Aliran Qadariyah banyak dianut oleh umat Muslim di masa kekhalifahan Abbasiyah. Pemikiran aliran ini mengakibatkan rasa optimisme pada diri setiap orang, sehingga untuk sukses seseorang benar-benar yakin bahwa ia harus memperjuangkan apapun yang ia inginkan. Karena pemikiran inilah akhirnya terjadi pembangunan besar-besaran pada kekhalifahan pada masa itu, itu adalah Masa Keemasan Islam.

Sedangkan Aliran Jabariyah baru semarak kembali di abad-abad belakangan ini. Aliran ini membuat umat muslim senantiasa berusaha zuhud tanpa lagi memikirkan dunia (sama sekali) menurut mereka kemiskinan terjadi di berbagai belahan dunia karena Allah memang sudah menakdirkannya begitu. Mereka hanya akan merasa segala yang dikerjakannya sia-sia.

Rasa pesimisme inilah yang juga membuat orang-orang dan tukang becak zaman sekarang takut untuk memulai usaha. Pikir mereka, buat apa capek-capek buat usaha kalau udah tenang jadi karyawan, kalau nanti Allah menakdirkan mereka kaya toh mereka akan jadi kaya sendiri kok.

Kalau aku sih memandang bahwa hal ini tidak lepas dari propaganda Yahudi. Walaupun dua-dua aliran ini sama-sama tertolak tentu saja Yahudi lebih suka jika kita over pesimis daripada over optimis. Diantara cara-caranya adalah dengan mengedarkan film-film di TV dan membiarkan tulisan, buku dan publikasi yang mengarahkan kita ke akhirat lebih tersebar luas (sementara itu tulisan yang berbau kebangkitan ekonomi Islam mereka tahan).

Aku sudah menjelaskan bagaimana usah mereka menanamkan mental seperti itu di link ini [link].


SAMA-SAMA BAHAYA
Keduanya sama-sama berbahaya. Jika menganut Qadariyah kita akan cenderung berat ke dunia (seperti Yahudi) dan menafikan kekuasaan Tuhan jika sesuatu terjadi di luar rencana kita. Jika menganut Jabariyah kita akan cenderung berat ke akhirat saja (seperti Nasrani) dan menafikan peran usaha di dunia. Padahal Islam menghendaki adanya keseimbangan.

Setelah melewati berbagai proses sejak zaman Nabi Adam, Ibrahim, Muda, hingga Isa, Islam pada akhirnya menjadi sempurna saat turunnya ayat terakhir kepada Nabi Muhammad. Islam menghendaki adanya keseimbangan dalam pemakmuran dunia dan pembekalan untuk akhirat.


Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan kau akan hidup selamanya dan beramallah untuk akhiratmu seakan-akan kau mati besok. –Nabi Muhammad

Ini adalah resep yang sempurna.


DIANTARA KEDUANYA
Islam yang benar adalah yang diantara keduanya. Kita tentu punya kasb yang datang bersama akal untuk menentukan usaha kita sendiri tapi kita juga harus ingat Allahlah yang mutlak memberi izin apakah suatu kejadian akan terjadi atau tidak.

Orang yang aliran Jabariyah yang menganggap dirinya korban takdir Tuhan akan cenderung membela setan. Bagaimana bisa? Ya tentu saja, bukankah setan juga bisa disebut korban takdir Tuhan. Orang Jabariyah akan mengatakan, bukan salah setan kalau ia jadi jahat, wong ia diciptakan begitu. Lebih jauh orang Jabariyah akan bilang, seharusnya Setan tidak bisa dihukum masuk neraka karena perbuatannya itu karena bukan ia yang menentukan. Nah lho!


Sudah baca kan? Bagi yang belum bacalah karena disana terdapat seluruh jawaban pertanyaan kalian. Bagaimana pun orang yang menganut Jabariyah adalah salah. Kekafirannya sama saja seperti kafirnya Iblis. Iblis beriman pada Allah, Malaikat, Rasul, Kitab, dan hari Akhir tapi ia tak beriman pada yang terakhir. Dia tak beriman pada Qadha dan Qadar, ia tak beriman pada yang kita sebut takdir. Ia tak terima kalau ia harus bersujud pada Adam. Orang Jabariyah juga sama, mereka tidak beriman pada Qadha dan Qadar.


Yang benar adalah kita tak boleh menafikan usaha kita. Allah telah memberi kita potensi baik dan buruk tapi Allah telah juga memberi kita akal untuk memilih yang baik dan buruk. Sehingga dengan itu apa yang dipilih manusia adalah tanggung jawabnya. Jika ia memilih yang benar ia pantas diberi hadiah dan jika ia memilih yang salah ia pantas diberi hukuman.


Kembali ke persoalan Primbon, aku ingin memberitahu kita semua bahwa sesungguhnya. Apa yang disebutkan dalam primbon hanyalah stereotip awal. Semua punya sisi yang baik dan buruk. Nabi juga punya sisi baik dan buruk tapi ia tetap bisa jadi Insan Kamil. Yang terpenting bukanlah bagaimana kita memulai semuanya tapi bagaimana kita mengakhirinya. Seperti kata Robert T. Kiyosaki.

Bukan salahmu jika kau lahir miskin tapi salahmu jika kau mati miskin.

Yang terpenting bukanlah posisi dimana kita memulai, tapi bagaimana dengan semua potensi itu kita bisa menjadi beriman dan mendapat jalan menuju Rabb kita. Bagaimana seorang jenderal dengan ilmu kemiliterannya bisa menemukan kebijaksanaan Tuhan dalam mengatur aturan perang. Bagaimana seorang perempuan dengan kecantikannya bisa mengerti bahwa hakikat keindahan itu diciptakan Tuhan sebagai ini dan itu. Bagaimana aku, Einstein dan Pythagoras seharusnya dengan kematematikaan kami menemukan jalan menuju Tuhan dengan kompleksitas alam semesta dengan segala timbangan dan kadarnya.


Tidak peduli apakah kau bodoh, jelek, tidak bisa dipercaya, rezekimu jauh atau wajahmu jelek! Tidak Peduli apapun yang dikatakan dukun kepadamu. Andai kata semua dukun bilang kau mati besok, jika Tuhan disisimu, Tuhan bisa membuat semua dukun tadi mati semuanya. Ucapkanlah dengan lantang “Hasbunallah wa ni’mal wakil” Cukuplah Allah menjadi penolongku “Nikmat maula wanikman nashir” Sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong!
 

Tulisan Populer

BERLANGGANAN VIA EMAIL

Selalu ketinggalan tulisan terbaruku? Tinggalkan saja alamat emailmu! Jadi aku bisa memberitahumu tiap kali sebuah tulisan baru terbit.