Kenapa Habib Begitu Keras?

Jumat, 02 Mei 2014

advertisement
apa tulisanku memang sekeras itu?

Ini adalah tulisan pertama dari seri catatan kepribadian saya. Dunia punya beberapa kutub berbeda untuk dipilih. Ada yang lebih memilih jadi boros, ada juga yang pelit. Ada yang lebih suka aman, ada yang berani ambil resiko. Ada yang perhatiannya menyebar, ada yang memusat. Ada yang memilih jalan keras, ada yang lebih suka cara lembut.


Kamu yang sudah membaca beberapa dari catatanku yang masuk entri populer pasti tahu bahwa hampir semua tulisanku beraliran keras, menghantam langsung, pedas, dan seperti tanpa belas kasihan. Sebut saja catatan-catatan seperti:

Saking pedasnya, beberapa catatan itu sampai diprotes banyak orang. Mereka bilang, “Kan ada cara mengingatkan yang lebih lembut!” “Bukankah nasihat yang lembut akan lebih masuk ke dalam hati?” “Bukankah dakwah harus dilakukan dengan cara yang baik?” dan banyak lagi pertanyaan sejenis yang mempertanyakan cara-caraku dalam mengingatkan orang lain.

Nah, itulah kita akan kita bahas di catatan kali ini.


Sebagai catatan, disini aku akan memberikan alasan-alasan logis, bukan historis.Dan aku mohon kalian maklum jika catatan ini akan lebih mirip seperti pembelaan diri ketimbang opini objektif Habib Asyrafy. Kamu bertanya, saya menjawab, gitu kan? Ya, jadi kita akan mulai dengan pembelaanku yang pertama.


APA ITU SALAH?
Ya, memang seseimpel itu. Apa salahnya kalau aku menggunakan cara keras? Bukankah Nabi menyukai perbedaan di kalangan umatnya? Aku selalu punya tiga tokoh idola yang kujadikan panutan dalam pikiranku. Mereka adalah Abu Bakar yang rendah hati, Umar ibn Khattab yang keras dan Ali ibn Abi Thalib yang cerdik. Mereka punya cara berbeda dalam dakwah tapi Nabi tak pernah menyalahakn satu pun dari mereka. Ini hanyalah soal selera dan cara.

Nabi sendiri menyuruh kita untuk selalu bermusyawarah untuk menentukan suatu keputusan. Bagaimana bisa ada musyawarah jika tidak ada perbedaan? Satu-satunya penjelasan logis adalah Nabi suka perbedaan. Itu sebabnya beliau pernah bersabda, “Perbedaan di kalangan umatku adalah rahmat.”

Kalau ada diantara kalian yang ingin berdakwah dengan cara lembut, aku tidak melarang.Saat itu aku menganggap kalian lebih suka cara Abu Bakar. Akan lebih bagus lagi jika kalian bisa menggunakan cara-cara cerdik seperti Ali ibn Abi Thalib.

(Jangan tanya apa yang kumaksud dengan cara Abu Bakar, Umar dan Ali ya! Ntar ketahuan kalau kalian lebih tahu soal makanan kesukaan Justin Bieber ketimbang kehidupan tokoh yang kalian sebut-sebut idola itu)

Lagi pula, sebenarnya hati Umar sangat lembut. Dia kerap kali menangis jika seorang penduduk negerinya terzalimi. Apa yang dia lakukan hanyalah menjadi Islam yang seutuhnya dengan, berlaku lembut pada orang yang berbuat baik, dan keras pada kemunkaran dan mereka yang kafir. Jadi tentu tidak salah jika aku mencoba meniru cara Umar kan?


CARA LAIN TIDAK EFEKTIF
Umar pasti punya alasan sendiri kenapa dia menjadi begitu keras. Alasan ini begitu pribadi sehingga tidak semua orang setuju dengan alasannya, bahkan juga Abu Bakar. Itu sebabnya tak seorang pun bisa mengubah sifat kerasnya itu. Begitu pula aku.

Kalau kalian tanya alasan, aku akan jawab bahwa “Cara lembut tidak efektif.” Bagaimana aku bisa bilang begitu?

Mudah, bukankah sejak puluhan tahun lalu Indonesia sudah punya ustad-ustad yang cukup bagus untuk mengingatkan mereka? Tapi coba pikir lagi, bukankah jumlah orang-orang yang tak mengindahkan pesan-pesan agama terus meningkat? Aku rasa sudah terlalu banyak ustad-ustad yang berceramah dengan gaya Abu Bakar. Kalau semua pakai cara lembut, ntar jadi gak seimbang dong!

Sebagai contoh kalian boleh baca tulisanku Nasehat untuk Korban Letusan Gunung Kelud yang marah-marah sama korban letusan gunung merapi. Aku takut jika semua orang membesarkan hati mereka dengan mengatakan bahwa letusan ini semua hanyalah cobaan, mereka tidak akan sadar dosa apa yang telah mereka perbuat. Aku takut Tuhan akan menimpakan letusan berikutnya jika mereka masih belum juga belajar. Itulah sebabnya aku memarahi mereka.

Contoh lainnya adalah tulisanku Berjilbab Fashion Islami, Emang Ada? Yang menampar habis-habisan para perempuan yang merasa hatinya belum terpanggil untuk berjilbab. Aku kira sudah terlalu banyak ceramah lembut tentang jilbab yang tak pernah mereka dengarkan hingga sekarang. Jadi apa salahnya kalau aku menampar mereka? Siapa tahu justru dengan rasa pedas di pipi dan telinga itulah mereka baru mau berubah.

Aku paham bahwa kalian yang lebih suka cara Abu Bakar, hanya khawatir nanti para perempuan itu akan makin jauh meninggalkan Islam hanya karena merasa bahwa Islam terlalu sulit. Sementara aku hanya ingin meniru sang pembeda (Al-Faruq) yang sangat tegas memberi batas antara yang benar dan salah. Jika mereka tidak tahan dengan caraku, aku yakin mereka bisa dengan mudah menemukan orang lain yang caranya lebih lembut di luar sana. (itu pun jika mereka memang mau diceramahi)


Itulah alasan mengapa kebanyakan tulisan di blog ini ditulis dengan cara yang pedas. Saya harap kalian bisa membantu teman-teman kalian yang bertanya hal yang sama untuk membaca tulisan ini juga. Semoga tamparan-tamparan ini bisa menggantikan hukuman yang harusnya mereka dapatkan di akhirat. Semoga tamparan inilah yang akhirnya bisa menyadarkan mereka ke jalan yang lebih baik.


Akhir kata, aku ingin berterima kasih kepada kalian yang bertanya, “Habib kok dakwahnya keras banget gitu sih?” Aku berterima kasih untuk saran dari semua teman-teman yang mengkhawatirkan keselamatanku, mengkhawatirkan orang-orang yang kumarahi dan mengkhawatirkan keselamatan agama kita ke depannya. Makasi banyak ya...

Dan aku juga berterima kasih kepada mereka yang cuma protes karena sadar bahwa ternyata orang-orang seperti merekalah yang sedang ditampar oleh tulisanku yang pedas. Aku harap mereka bukan cuma protes karena ingin menghindari kebenaran pahit yang kuungkap di depan mereka tapi memang semata karena tidak tahan dengan aku yang terlalu pedas. Semoga setelah ini mereka mau mencari dan mendengarkan orang yang lebih lembut yang mau memperbaiki mereka. Amiin...

Mungkin kamu juga mau tahu Kenapa aku suka ikut camput urusan orang lain.
 

Tulisan Populer

BERLANGGANAN VIA EMAIL

Selalu ketinggalan tulisan terbaruku? Tinggalkan saja alamat emailmu! Jadi aku bisa memberitahumu tiap kali sebuah tulisan baru terbit.