Semua burung bisa terbang kecuali penguin dan burung unta. Semua anak harus belajar agar lulus kecuali anak pejabat, haha. Semua laki-laki jahat kecuali saya, haha, maaf bercanda. Tapi begitulah, selalu ada pengecualian untuk apapun yang hendak kita katakan.
Tulisan ini bermula dari sebuah pertanyaan di Quora yang kira-kira berbunyi: “Jika budaya terus berevolusi, bagaimana kita dapat melestarikan suatu budaya?” Dalam hati aku langsung menjawab, segala sesuatu memang akan terus berubah karena itulah memang ketetapannya. Jika ada yang tidak berubah, maka itu adalah perubahan. See?
“Jika ada yang tidak berubah, maka itu adalah perubahan.”
Kalimat itu secara tidak langsung berkata segala sesuatu tidak tetap. Tapi pernyataan itu sendiri suatu hal yang bersifat tetap. Kalimat itu seolah berkata segala sesuatu berubah. Tapi apakah pernyataan “segala sesuatu berubah” itu sendiri pernah berubah?
Itu berarti kebenarannya akan lebih akurat jika pernyataan itu dilengkapi dengan pengecualian. “Segala sesuatu berubah kecuali kalimat ini.” Tapi jika setiap generalisasi tidak boleh dinyatakan tanpa tanpa menyebutkan pengecualiannya, akan merepotkan sekali jadinya. Orang Indonesia tidak pernah tepat waktu? Kecuali dosenmu. Semua orang senang dikasih duit? Kecuali anak bayi. Matahari selalu terbit dari Timur? Kecuali menjelang hari kiamat. Jika sudah begitu, dapatkah kita menyatakan sesuatu tanpa celah untuk disangkal?
Jika adanya pengecualian-pengecualian itu dipandang cukup untuk membatalkan suatu kesimpulan umum, maka nyaris tidak ada kalimat dimana kata “semua”, “setiap” dan “selalu” dapat digunakan. Itu sebabnya masyarakat kita tidak pernah memandang pengecualian-pengecualian ini sebagai penghalang. Dalam bahasa statistik, suatu pencilan tidak membatalkan kesimpulan umum mengenai suatu data. Sehingga boleh saja kita menyatakan:
- Setiap hari matahari terbit dari Timur dan terbenam di Barat (meskipun menjelang kiamat ga gitu)
- Setiap manusia punya ayah dan ibu (meskipun ada Nabi Adam dan Nabi Isa)
- Semua manusia ditanyai malaikat dalam kuburnya (meskipun ada Nabi Muhammad saw)
- Tidak ada orang yang bisa hadir di dua tempat dalam waktu bersamaan (meskipun ada para wali)
Jika kamu tahu “segala sesuatu tentu memiliki pencipta” tapi kamu tidak memahami pembahasan kita di atas, besar kemungkinan kamu akan bertanya: “jika Tuhan menciptakan semuanya lalu siapa yang menciptakan Tuhan?”
Jika kamu tahu “segala sesuatu tidak ada sebelum momen kemunculannya” tapi kamu tidak memahami selalu ada pengecualian untuk segala sesuatu, besar kemungkinan kamu akan kebingungan ketika disebutkan: “Tuhan ada tanpa permulaan bagi adanya. Tuhan selalu ada. Tidak pernah ada satu saat pun dimana Tuhan tidak ada.”
Dan tahukah kamu tuhan itu sebetulnya tidak ada … kecuali Allah tentunya.